loading...
Iran sebut militer AS yang bombardir pesta pernikahan di Provinsi Hormozgan pada Selasa malam lalu. Empat orang tewas dalam serangan ini. Foto/Press TV
WASHINGTON - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Amerika sedang menyelidiki secara menyeluruh laporan mengenai serangan militer Washington terhadap sebuah pesta pernikahan di Iran pada Selasa malam lalu. Serangan itu dilaporkan menewaskan empat orang.
Belasan korban lainnya juga dilaporkan berjatuhan di sepanjang pesisir selatan Iran setelah AS melancarkan serangkaian serangan dalam salah satu eskalasi terbesar sejak Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad ditandatangani oleh kedua pihak lebih dari dua bulan lalu.
Baca Juga: AS Bombardir Pesta Pernikahan di Iran, 4 Orang Tewas
"Saya sudah mendapat pengarahan, sejauh yang saya ketahui, bahwa kami sedang menyelidikinya," kata Vance dalam pengarahan di Gedung Putih pada hari Kamis.
"Saya akan mengatakan bahwa media pemerintah Iran sejauh ini bukan sumber yang terlalu baik dalam mencatat apa yang sebenarnya terjadi dalam konflik ini. Jadi, saya sangat skeptis terhadap laporan tersebut," ujarnya, meragukan laporan media Iran bahwa serangan dilakukan oleh militer Washington.
"Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan itu. Kami juga tidak pernah melakukannya. Dan sayangnya, tentu saja, terkadang berbagai hal terjadi...Ketika militer kami melakukan kesalahan, mereka belajar dari kesalahan tersebut untuk berusaha menjadi lebih baik. Jadi, kami sedang menyelidikinya secara sangat menyeluruh," paparnya.
Vance secara tidak langsung mengakui bahwa saat ini tidak ada saluran diplomatik terbuka antara Washington dan Teheran. Hal itu terlihat ketika dia tidak membantah jurnalis yang mengaitkan masalah tersebut dengan kondisi hubungan kedua negara. Sebelumnya, Vance memimpin tim perunding AS dalam perundingan di Islamabad dan Lucerne.
Namun, dia membantah penyebutan konflik yang sedang berlangsung sebagai "perang". "Operasi tempur besar saat ini tidak sedang berlangsung, dan sudah tidak berlangsung dalam waktu yang sangat lama," katanya.
"Saya tidak akan menyebutnya perang. Saat ini, tidak ada baku tembak aktif," katanya lagi.
Meski demikian, selama pengarahan yang berlangsung hampir satu jam itu, Vance menghabiskan banyak waktu menjelaskan bahwa AS harus menggunakan kekuatan militernya di Selat Hormuz. "Karena Iran menembaki kapal-kapal komersial," ujarnya.
Iran telah memberlakukan blokade—yang menjadi alat tekan paling efektifnya—terhadap kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel di jalur perairan strategis tersebut sejak awal serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
"Jelas, itu berarti ada sejumlah kapal yang tidak ingin melintas [di sana], tetapi sekitar 15 juta barel minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz hanya kemarin, meskipun Iran terus melakukan penembakan," kata Vance.
Angkatan Laut AS memberlakukan blokade tandingan pada April.
"Apa yang telah dilakukan negara-negara lain di dunia? Mengapa Amerika Serikat harus menjadi satu-satunya negara di dunia yang sebenarnya dapat memastikan pasar energi dunia terus mendapatkan pasokan?" tanya Vance.
Beberapa menit kemudian, dia secara tidak sengaja menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kami adalah satu-satunya negara di dunia yang dapat memastikan, seperti yang Anda dengar dari presiden, kendali atas Selat Hormuz...Jika kami tidak melakukannya, tidak ada orang lain yang akan melakukannya," paparnya.

















































