Agresivitas atau Insekuritas: Mengapa China Terus Memprovokasi di Laut China Selatan?

4 hours ago 9

loading...

Kapal Penjaga Pantai China dan Filipina saat bentrok di sekitar Second Thomas Shoal, kawasan Laut China Selatan. Foto/Philippine Coast Guard

JAKARTA - Laut China Selatan telah menjelma menjadi salah satu kawasan paling diperebutkan dalam politik global, di mana insiden kecil kerap memicu konsekuensi masif.

Perselisihan rutin antara penjaga pantai atau kapal penangkap ikan dapat dengan cepat meruncing menjadi krisis diplomatik yang menyeret para presiden, menteri luar negeri, hingga aliansi internasional.

Baca Juga: Kapal Perang Belanda dan China Terlibat Konfrontasi di Laut China Selatan

Presiden Center for Indo-Pacific Strategic Studies, Pema Gyalpo, menyoroti bentrokan 20 Juli antara pasukan China dan Filipina di Second Thomas Shoal sebagai contoh nyata bagaimana konfrontasi kecil dapat menguji aliansi, membentuk kesatuan regional, sekaligus menyingkap insekuritas mendalam di balik postur asertif Beijing.

Jelang pertemuan menteri luar negeri ASEAN kala itu, personel Pasukan Penjaga Pantai China secara fisik mengadang pelaut Angkatan Laut Filipina, dengan laporan penggunaan tongkat terhadap seorang prajurit Filipina.

Manila menuding Beijing melakukan agresi, sementara Beijing bersikeras Filipina yang memprovokasi. Presiden Ferdinand Marcos Jr. dengan cepat memanggil Duta Besar China untuk memberikan teguran keras, sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi terpaksa mengakui bahwa hubungan kedua negara berada di "persimpangan jalan yang kritis."

Satu Dekade Taktik Koersif yang Menjadi Blunder Strategis

Bentrokan ini bukanlah peristiwa terisolasi. Selama hampir satu dekade, China merespons perselisihan kecil di Laut China Selatan dengan unjuk kekuatan ketimbang diplomasi. Kapal pasokan Filipina diserang dengan meriam air, kapal-kapal ditabrak di dekat Beting Scarborough, dan nelayan Vietnam melaporkan serangan laser.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |