Terungkap, Rp400 Miliar Digelontorkan Mazda untuk Pabrik di Bogor, Ini Faktanya

17 hours ago 9

loading...

Mazda Indonesia Plant di Citeureup, Bogor, jadi pabrik perakitan Mazda pertama di Indonesia, dibiayai penuh oleh Eurokars Group tanpa suntikan modal asing. Foto: MG Indonesia

CITEUREUP - Mazda akhirnya punya pabrik sendiri di Indonesia. Setelah sembilan tahun hanya mendatangkan unit utuh dari luar negeri, PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) resmi mengoperasikan fasilitas perakitan bernama Mazda Indonesia Plant (MIP) di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai 29 Juli 2026.

Fakta-Fakta Pabrik Mazda Indonesia Plant

Terungkap, Rp400 Miliar Digelontorkan Mazda untuk Pabrik di Bogor, Ini Faktanya

Berikut rincian yang perlu diketahui dari fasilitas baru ini:

- Lokasi: Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
- Luas lahan: 6,2 hektare (sebagian laporan menyebut hampir 65.000 meter persegi).
- Nilai investasi: lebih dari Rp400 miliar, seluruhnya ditanggung Eurokars Group tanpa suntikan modal asing atau pihak ketiga.
- Status: dedicated assembly facility — jalur produksinya murni untuk Mazda, tidak dicampur merek lain.
- Kapasitas awal: 5.700 unit per tahun dengan ritme 3 Job Per Hour (JPH) dalam satu shift. Dengan skema dua shift, kapasitas berpotensi naik menjadi lebih dari 10.000 unit per tahun.
- Model pertama: Mazda CX-30, dirakit dari komponen Completely Knocked Down (CKD) yang sebagian besar masih didatangkan dari Jepang.
- Sistem produksi: dikendalikan lewat Warehouse Management System untuk material dan Manufacturing Execution System untuk jalur perakitan, sehingga tiap komponen dan unit bisa dilacak secara digital.
"Perusahaan yang menaungi Mazda Indonesia Plant ini 100 persen oleh Eurokars. Jadi tidak ada investasi dari mana pun juga," tegas Ricky Thio, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia.

Mengapa Mazda Baru Membangun Pabrik Sekarang
Eurokars memegang lisensi Agen Pemegang Merek Mazda sejak 2017. Delapan tahun lebih, semua unit yang dijual berstatus impor utuh (CBU).

Keputusan membangun pabrik sendiri erat kaitannya dengan strategi jangka panjang: mengurangi ketergantungan pada impor utuh, membuka jalan menaikkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap, dan memperkuat posisi Mazda di pasar SUV premium yang persaingannya kian ketat.

Keputusan ini juga muncul di tengah kondisi pasar yang sebenarnya belum sepenuhnya kondusif.

Sepanjang 2025, Mazda dua kali merevisi turun target penjualannya. Dari 6.000 unit menjadi 4.800 unit, lalu 3.500 unit, mengikuti pelemahan pasar otomotif nasional yang wholesales-nya turun 7,2 persen menjadi 803.687 unit.

Membangun pabrik saat penjualan sedang tertekan menunjukkan ini bukan keputusan jangka pendek, melainkan taruhan untuk siklus pasar berikutnya.

Proses Produksi dan Standar Kualitas

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |