Bermula dari Satu Klik, Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital

13 hours ago 10

loading...

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan. Foto: Istimewa

JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan. Proses itu dapat berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma .

“Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,” kata Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Dia berpendapat, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth.

Baca juga: Fahri Bachmid Soroti Algoritma dan Teknologi Digital saat LK II HMI Kota Bogor 2026

Menkomdigi menuturkan bahwa proses radikalisasi tidak terjadi secara instan. Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan atau kehidupan yang lebih baik. Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten berbahaya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |