loading...
Kecelakaan Lamborghini di Tol Kunciran menghebohkan media sosial. Foto: ist
TANGERANG - Di tengah drama ringseknya sebuah Lamborghini Murciélago putih di Tol Kunciran, ada satu kabar baik yang paling utama: tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sang pengemudi, ES (37), selamat tanpa cedera serius.
Kini, babak baru dari cerita ini dimulai, sebuah babak yang bukan tentang kecelakaan, melainkan tentang tanggung jawab dan sebuah pelajaran berharga bagi semua pengendara di jalan raya.
Setelah momen kelalaian yang membuatnya kehilangan kendali atas supercar seharga miliaran rupiah itu, ES kini dihadapkan pada konsekuensi hukum yang tegas. Sesuai aturan yang berlaku, ia wajib mengganti seluruh kerugian akibat kerusakan fasilitas umum yang ditimbulkannya. Ini adalah sebuah cerminan bahwa hukum di jalan tol berlaku untuk semua, tanpa pandang bulu.
Harga Sebuah Kelalaian
Aturan mainnya sangat jelas dan tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol. Pasal 86 di dalamnya menyebutkan bahwa setiap pengguna jalan tol yang karena kesalahannya merusak fasilitas—seperti pagar pembatas, rambu, atau bangunan pelengkap lainnya—wajib membayar ganti rugi sepenuhnya kepada pengelola.
Meski nominal pasti yang harus dibayar ES masih dalam proses perhitungan oleh pengelola jalan tol, sebuah kasus serupa bisa menjadi gambaran. Belum lama ini, seorang pengemudi yang menabrak crush cushion (peredam benturan di ujung pembatas jalan) harus menanggung kerugian sebesar Rp150 juta. Ini adalah angka yang signifikan, menjadi pengingat bahwa kelalaian di balik kemudi memiliki harga yang mahal.
Monster V12 dan Jebakan Adrenalin
Insiden ini kembali membuka diskusi tentang tanggung jawab besar yang datang bersama kekuatan dahsyat sebuah supercar. Lamborghini Murciélago bukanlah mobil biasa. Di balik kapnya, bersemayam monster mesin V12 yang mampu menghasilkan tenaga lebih dari 600 daya kuda, mendorong adrenalin siapa pun yang menginjak pedal gasnya.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah mengendalikan mobilnya, melainkan mengendalikan diri sendiri.