Mengenal Masjid Tertua Bojonegoro Warisan Kerajaan Mataram di Tepi Sungai Bengawan Solo

1 day ago 5

loading...

Bangunan Masjid Jami Nurul Huda Cangaan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Masjid ini didirikan pasukan Kesultanan Mataram bernama Ki Ageng Wiroyudo pada 1775 Masehi. Foto: Avirista Midaada

BOJONEGORO - Perkembangan agama Islam di Kabupaten Bojonegoro tak bisa dilepaskan dari masjid yang terletak di tepi Sungai Bengawan Solo. Masjid bernama Nurul Huda di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro ini diklaim menjadi tertua berdasarkan catatan dan bukti-bukti sejarah selama ini.

Berlokasi tak jauh dari Sungai Bengawan Solo yang menjadi sungai sibuk kala itu tak heran bila masjid ini memang menjadi elemen penting perkembangan agama Islam. Konon, masjid ini didirikan oleh pasukan dari Kesultanan Mataram bernama Ki Ageng Wiroyudo pada 1775 Masehi.

Dia melarikan diri dari kejaran Belanda di Mataram hingga tiba ke Bojonegoro yang saat itu masih hutan belantara di tepian sungai. Ki Ageng dan beberapa pengikutnya melarikan diri hingga terdampar di kawasan sekitar masjid yang kini masuk Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro.

Tampak dari bangunan masjid memang sekilas tak seperti bangunan kuno. Memang secara konstruksi masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro ini lebih modern dengan struktur batu bata yang kokoh.

Memasuki area masjid juga terlihat pintu gapura berwarna putih dengan pagar hijau yang siap menyambut setiap jemaah yang datang.

Dari bangunan inti masjid seluas 15x15 meter ini juga tampak modern dengan struktur dominasi tembok warna putih dengan pilar-pilar yang berlapis keramik seperti sebuah bangunan yang baru saja dibangun. Namun, saat kita melihat bagian teras masjid depan bisa jadi anda terkejut.

Terdapat daun pintu berbahan baku kayu jati kuno di pintu depan masuk masjid. Di daun pintu ini bertuliskan sebuah huruf Arab dan huruf aksara Jawa. Tak ketinggalan dua kalimat bertuliskan 'Laa Ilaha Illallah' di kanan dan 'Muhammad Rasulullah' di kiri dengan huruf arab gundul. Di bawahnya terdapat tulisan 1262 H menggunakan angka arab yang menandakan tahun dibuatnya.

Belum lagi konstruksi bangunan di dalam masjid dengan empat pilar utama di ruangan ibadah utama tampak bahwa masjid ini bukan masjid baru yang dibangun. Meski secara keseluruhan konstruksi lebih modern.

Kini masjid ini tak persis lagi di tepi Sungai Bengawan Solo, sebab masih ada beberapa bangunan dan jalan memisahkannya dengan sungai. Tapi, secara keseluruhan jarak antara masjid dan sungai hanya sekitar 100 meteran.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |