Mengapa Revolusi Prancis Jadi Simbol Perlawanan Rakyat terhadap Tirani dan Ketidakadilan?

3 hours ago 5

loading...

Lukisan Storming of the Bastille menggambarkan penyerbuan penjara Bastille di Paris, Prancis, yang jadi simbol penindasan politik. Foto/wikipedia

PARIS - Revolusi Prancis yang terjadi pada tahun 1789–1799 adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan umat manusia. Revolusi ini tidak hanya mengubah wajah politik dan sosial Prancis, tetapi juga memberikan inspirasi besar bagi bangsa-bangsa lain yang tengah berjuang melawan penindasan dan rezim absolut.

Revolusi ini memperlihatkan bagaimana kekuatan rakyat, ketika bersatu melawan ketidakadilan, mampu menggulingkan sistem feodal dan kekuasaan absolut raja yang telah berabad-abad menindas.

Prinsip-prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan (liberté, égalité, fraternité) yang lahir dari Revolusi Prancis kemudian menjadi dasar ideologi demokrasi modern di seluruh dunia.

Berikut adalah poin-poin penting yang menjelaskan latar belakang, jalannya peristiwa, serta dampak Revolusi Prancis yang sering dijadikan contoh dalam melawan rezim berkuasa yang menindas rakyat:

1. Kondisi Sosial yang Tidak Adil

Salah satu faktor utama penyebab Revolusi Prancis adalah ketidakadilan sosial yang merajalela di bawah sistem Ancien Régime (tatanan lama).

Masyarakat Prancis terbagi dalam tiga golongan atau “Tiga Estate”. Estate pertama adalah kaum gereja (klerus), estate kedua adalah kaum bangsawan, sementara estate ketiga adalah rakyat biasa yang mencakup petani, buruh, pedagang, hingga intelektual kelas menengah (borjuis).

Golongan pertama dan kedua menikmati hak-hak istimewa, termasuk bebas pajak dan hak atas tanah yang luas.

Sebaliknya, golongan ketiga yang merupakan mayoritas justru menanggung beban pajak berat.

Kesenjangan inilah yang menimbulkan ketidakpuasan besar, terutama ketika rakyat semakin miskin akibat krisis ekonomi.

2. Krisis Ekonomi yang Parah

Kondisi keuangan Prancis menjelang Revolusi berada di ambang kehancuran. Utang negara membengkak akibat keterlibatan Prancis dalam perang, terutama Perang Tujuh Tahun dan dukungan terhadap Revolusi Amerika.

Raja Louis XVI kemudian menaikkan pajak untuk menutupi defisit, tetapi beban itu justru hanya jatuh pada rakyat kecil.

Sementara itu, harga roti—makanan pokok rakyat—melonjak drastis akibat gagal panen. Situasi ini membuat penderitaan masyarakat semakin dalam.

Ketika rakyat tidak lagi mampu membeli kebutuhan dasar, kemarahan pun meledak dan menuntut perubahan.

3. Lemahnya Kepemimpinan Raja Louis XVI

Raja Louis XVI yang berkuasa pada masa itu dikenal lemah, ragu-ragu, dan tidak mampu mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan negara.

Ia lebih sibuk dengan kehidupan istana di Versailles bersama istrinya, Ratu Marie Antoinette, yang terkenal boros.

Ketidakmampuan raja dalam menghadapi krisis politik dan ekonomi semakin memperburuk keadaan. Alih-alih melakukan reformasi, ia tetap mempertahankan sistem lama yang hanya menguntungkan kaum bangsawan.

Akibatnya, rakyat melihat monarki absolut sebagai simbol utama penindasan yang harus digulingkan.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |