Jejak Terakhir Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa, Tinggal selama 26 Hari di Jakarta

19 hours ago 6

loading...

Pangeran Diponegoro sempat tinggal di Jakarta selama 26 hari sebelum diasingkan ke Manado. Inilah jejak terakhir Pahlawan Nasional asal Jogja itu di Pulau Jawa. Foto/Ist

PANGERAN Diponegoro sempat tinggal di Batavia (Jakarta) selama 26 hari sebelum diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Inilah jejak terakhir Pahlawan Nasional asal Keraton Yogyakarta (Jogja) itu di Pulau Jawa.

Sosok Pengeran Diponegoro, salah satu panglima perang legendaris dunia sekaligus pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang menggentarkan penjajah Belanda tiba Batavia melalui Dermaga Pasar Ikan (Pelabuhan Sunda Kelapa), pada 8 April 1830 silam.

Baca juga: Panglima Perang Legendaris Dunia, Pangeran Diponegoro Salah Satunya

Sang Pangeran tiba setelah tiga hari menempuh perjalanan laut dari Semarang menggunakan kapal uap SS Van der Capellen. Pangeran Diponegoro ditemani istri, saudara perempuannya, ipar laki-lakinya, dan 16 pengikut setianya.

Saat itu kondisinya demam akibat malaria. Kereta Gubernur Jenderal dan para ajudan sudah berada di dermaga menunggu kedatangan Pangeran Diponegoro dan rombongan. Dengan kereta itulah mereka dibawa menuju ke Stadhuis atau Balai Kota Batavia (Gedung Museum Fatahillah).

Di sekitar pelabuhan, rombongan orang-orang Eropa menyaksikan kedatangan Pangeran Diponegoro. Mereka datang menggunakan kapal-kapal kecil yang disewa atau berkerumun di dermaga untuk melihat dari dekat tokoh perlawanan rakyat Jawa.

Baca juga: Prahara Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta Pascaperang Diponegoro

"Betapa berubah wajahnya, hal yang sudah semestinya, tatkala ia melihat ke arah mana kereta itu bergerak! Ia terhenyak ketika menjejakkan kaki di jalan masuk, jelas tampak tidak rela memasuki gedung besar yang tampak suram itu,” demikian kesaksian seorang pemuda asal Skotlandia, George Frank Davidson, yang tiba di Jawa pada 1823 untuk bekerja di perusahaan kakaknya, John Davidson dikutip dari buku tentang Pangeran Diponegoro karya Peter Carey, "Kuasa Ramalan").

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |