loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Alaska. Foto/tass
MOSKOW - Sejak perang antara Rusia dan Ukraina pada Februari 2022, konflik bersenjata ini menjadi salah satu krisis geopolitik paling besar di abad ke-21. Perang ini melibatkan bukan hanya dua negara tetapi juga tarik-menarik berbagai kepentingan global.
Setelah bertahun-tahun perang yang menguras sumber daya, menimbulkan korban besar, dan memicu ketegangan internasional, muncul sinyal bahwa Rusia mulai membuka ruang untuk berunding dengan Amerika Serikat (AS) terkait masa depan Ukraina.
Kesediaan Moskow untuk berdialog ini tentu sarat dengan kepentingan strategis, diplomatik, ekonomi, serta perhitungan jangka panjang yang kompleks. Berikut ini rincian alasan Rusia bersedia berunding dengan AS soal Ukraina.
1. Legitimasi Diplomatik dan Menjaga Citra Internasional
Rusia secara terbuka menyatakan keseriusannya dalam berunding demi meraih resolusi damai permanen.
Kremlin menegaskan Presiden Rusia Vladimir Putin menyukai gagasan solusi damai sebagai cara untuk mengamankan posisi geopolitiknya dan mempertahankan citra sebagai kekuatan besar yang dihormati dunia internasional.
Keterlibatan dalam diplomasi, terutama melalui forum bersama AS, juga memberikan Rusia legitimasi. Di mata dunia, berunding bisa menjadi simbol bahwa Rusia bukan agresor semata, melainkan pemain politik yang fleksibel dan kooperatif.
2. Menanggapi Desakan AS dan Manuver Diplomatik yang Mediatik
AS, khususnya di era Presiden Donald Trump Trump, telah mendorong pembicaraan langsung antara Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Trump sering menekankan pentingnya dialog dan mengklaim kedua pihak terbuka untuk berunding.
Bagi Rusia, tanggapan terhadap dorongan ini menghadirkan peluang diplomatik: jika dipandang sebagai mitra yang "siap berdialog", posisi tawar Rusia justru bisa menguat.
3. Strategi Tunda dan Memperkuat Posisi Perang (“Buying Time”)
Beberapa analis menilai Rusia menggunakan risiko perundingan bukan sebagai titik akhir konflik, melainkan sebagai taktik untuk meredakan tekanan ataupun merekayasa waktu untuk perkuatan militer.