Sepotong Video dan Dengung Warganet

20 hours ago 3

loading...

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Ahmad Inung. FOTO/IST

Ahmad Inung
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama

POTONGAN video penjelasan Sekretaris Jenderal Kemenag tentang tuntutan tunjangan guru-guru honorer madrasah swasta dalam Rapat Kerja antara Kementerian Agama dengan Komisi VIII DPR RI tengah viral. Kolom komentar penuh dengan kalimat-kalimat panas. Tak sedikit yang bernada cacian dengan diksi yang kasar.

Tanpa melihat konteks pembicaraannya, potongan video penjelasan Sekjen Kemenag itu bisa menimbulkan kesan yang sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan. Konteks penjelasan Sekjen Kemenag sebetulnya adalah tingginya beban yang harus ditanggung oleh Kementerian Agama jika tuntutan tunjangan guru-guru honorer madrasah swasta tersebut harus dipenuhi. Jumlah yang sangat besar ditambah dengan ketiadaan instrument kontrol negara c.q.

Kementerian Agama dalam proses rekruitmen guru berbasis Analisis Jabatan (Anjab) dan Analisis Beban Kerja (ABK) pada madrasah-madrasah swasta hanya akan menempatkan kinerja anggaran Kementerian Agama dalam situasi bahaya. Padahal, Anjab ABK adalah instrumen krusial dalam manajemen SDM aparatur untuk menyusun uraian jabatan, peta jabatan, dan menetapkan jumlah kebutuhan pegawai yang objektif berdasarkan beban kerja nyata. Itulah mengapa dalam forum Rapat Kerja tersebut Sekjen meminta forum khusus untuk membicarakan masalah ini, sehingga DPR bisa mendapatkan informasi komprehensif, tidak hanya satu arah.

Potongan video itu kemudian tersebar dengan caption yang seakan-akan Sekjen Kemenag tidak peka dan peduli terhadap guru honorer madrasah swasta. Sekjen dinilai tidak memahami sistem dan tata Kelola madrasah. Sekjen dianggap lari dari tanggung jawab. Bahkan, Sekjen dituduh menghina pengabdian panjang guru honorer madrasah swasta.

Lihat, betapa menganganya jurang antara maksud statemen Sekjen dengan respons terhadapnya. Di satu sisi, Sekjen membicarakan tentang kekuatan anggaran Kemenag dalam memenuhi tuntutan para guru honorer madrasah swasta dengan segala konsekuensinya, di sisi lain, respon atas statemen tersebut menggesernya menjadi isu lari dari tanggung jawab dan penghinaan terhadap pengabdian guru. Dari mana jurang ini tiba-tiba muncul?

Kebenaran di Era Post-Truth

Di era post-truth, ruang publik, ruang sosial di mana warganet memperdebatkan beragam isu, tidak lagi sepenuhnya bisa dipercaya. Terjadi perubahan struktural dalam bagaimana sebuah informasi diproduksi, diedarkan, dan divalidasi. Dalam situasi seperti ini, dengungan yang keras dan popularitas yang berjejaring secara luas dan rapi sering kali lebih kuat pengaruhnya dan mengalahkan akurasi empiris dalam membentuk opini publik.

Pernah pada suatu masa, Jurgen Habermas, salah seorang filosof Mazhab Kritis, mengidealisasi ruang publik. Menurutnya, ruang public adalah tempat praktik komunikasi intersubjektif terjadi, di mana rasionalitas kritis tumbuh. Fakta dan kebenaran diperdebatkan secara terbuka dan rasional. Namun, ruang publik sebagai tempat berlangsungnya praktik demokrasi melalui komunikasi kritis yang setara itu kini telah menjadi mitos.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |