loading...
Schneider Electric memiliki platform untuk memantau dan mengendalikan tata udara, kelistrikan, pencahayaan, sistem kebakaran, mekanikal, keamanan, sampai lift di sekolah. Foto: ist
JAKARTA - Pukul 12 siang. Jam pelajaran kelima. Kipas berputar. Jendela sudah dibuka. Tapi udara di kelas tetap panas. Seorang anak di bangku belakang mulai tidak fokus. Bisa jadi bukan karena malas. Bisa jadi karena ruang kelasnya memang terlalu panas.
Sekolah sekarang memang dituntut lebih hemat energi. Sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 menetapkan ukuran bernama Intensitas Konsumsi Energi.
Sederhananya: total listrik yang dipakai gedung selama setahun dibagi luas lantai kotor. Satuannya kilowatt-jam per meter persegi per tahun. Dari situ gedung dinilai sangat efisien, efisien, cukup efisien, atau boros.
Di sinilah sekolah menghadapi dilema. AC dinyalakan, konsumsi listrik naik. AC dimatikan, siswa belajar kepanasan.
Lalu muncul kewajiban lain: sekolah harus melaporkan penggunaan energi secara daring melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Kalau masuk kategori boros, harus ada rencana aksi efisiensi yang spesifik, terukur, dan punya batas waktu.
Masalahnya: tagihan listrik hanya menunjukkan total pemakaian. Tidak tahu listrik habis di mana. Laboratorium komputer? Lampu koridor? Ruang guru? AC yang lupa dimatikan Jumat sore? Semua tercampur menjadi satu angka.
Dari sinilah Schneider Electric melihat persoalan yang lebih besar. Sekitar 90 persen peralatan listrik di dunia belum terhubung ke perangkat lunak apa pun. Sementara 95,5 persen data yang sudah dikumpulkan industri konstruksi belum dimanfaatkan.
"Rendahnya pemanfaatan data menjadi tantangan terbesar industri bangunan saat ini,” kata Reza Syarif, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia. Artinya, persoalannya bukan semata-mata kurang hemat. Persoalannya: tidak tahu apa yang harus dihemat.
Pahami, Digitalkan, Optimalkan

Schneider Electric menawarkan pendekatan sederhana: pahami dulu, digitalkan, kemudian optimalkan. Tidak harus langsung membangun gedung baru. Tidak harus membongkar instalasi lama. Tapi mencari titik masalah.
Ada EcoConsult Walkthrough Assessment. Sistem ini melakukan asesmen terhadap kelistrikan dan otomasi gedung. Tujuannya mencari peluang efisiensi, meningkatkan keandalan dan keselamatan, lalu memberikan rekomendasi berdasarkan data.
Ada juga Energy Efficiency Audit untuk melihat pola konsumsi energi. Kemudian Audit for Power Monitoring, untuk mengetahui kesiapan gedung memasang sistem pemantauan.

















































