loading...
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 1% setelah terombang-ambing dalam volatilitas tinggi. Foto/Dok
JAKARTA - Pasar minyak mentah dunia kembali berada di persimpangan jalan yang menegangkan. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 1% pada penutupan perdagangan Senin waktu Amerika Serikat (AS) setelah terombang-ambing dalam volatilitas tinggi.
Investor saat ini tengah menimbang antara munculnya secercah harapan negosiasi damai AS-Iran dengan ancaman baru yang tak kalah mengerikan, yakni blokade maritim terhadap Arab Saudi oleh milisi Houthi. Konflik di Timur Tengah terus membara setelah AS melancarkan serangan udara berturut-turut ke wilayah Iran.
Sementara sekutu AS seperti Kuwait dan Bahrain melaporkan gelombang serangan balasan dari Tehran. Kondisi ini memicu lompatan harga komoditas utama global. Baca Juga: Matikan Selat Hormuz! AS dan Irak Deal Bangun Jalur Pipa Minyak Senilai Rp1.074 triliun
Minyak Brent ditutup menguat USD1,12 atau setara 1,3% ke level USD89,22 per barel, setelah sempat menyentuh USD91,42 per barel atau posisi tertinggi sejak 11 Juni. Sedangkan minyak WTI AS terangkat 74 sen (0,9%) ke posisi USD83,23 per barel, setelah sempat menembus angka USD85,39.
Proposal Gencatan Senjata 10 Hari di Tengah Ancaman Blokade Houthi
Di tengah dentuman bom, jalur diplomasi rahasia mendadak terbuka. Seorang pejabat senior Iran membocorkan kepada Reuters bahwa para mediator telah menyampaikan proposal deeskalasi kepada Tehran.
Proposal ini menyarankan gencatan senjata selama 10 hari guna menghidupkan kembali kesepakatan damai sementara yang sempat runtuh. Namun di saat harapan damai berhembus, kelompok Houthi di Yaman -yang disokong Iran- secara mengejutkan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.


















































