China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan

9 hours ago 10

loading...

Meningkatnya kehadiran pekerja dan investasi China di Kirgizstan memicu kekhawatiran warga terkait kedaulatan negara di Asia Tengah tersebut. Foto/RFERL

JAKARTA - Meningkatnya kehadiran pekerja dan investasi China di Kirgizstan semakin sulit diabaikan. Di satu sisi, pemerintah menilai keterlibatan Beijing penting untuk mendorong pembangunan.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan dampaknya terhadap lapangan kerja, sumber daya alam, hingga kedaulatan negara.

Baca Juga: Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah

Mengutip dari Radio Free Europe Radio Liberty, Selasa (21/7/2026), data Departemen Konsuler Kementerian Luar Negeri Kirgizstan menunjukkan negara itu telah menerbitkan sekitar 61.000 visa kerja pada paruh pertama 2026. Sekitar 60 persen di antaranya diberikan kepada warga negara China.

Lonjakan pekerja tersebut merupakan bagian dari ekspansi ekonomi China di negara Asia Tengah itu. Dalam tiga tahun terakhir, hampir 7.000 perusahaan, asosiasi, dan organisasi asal China telah terdaftar di Kirgizstan.

Perusahaan-perusahaan China kini terlibat dalam berbagai proyek besar di sektor infrastruktur, pertambangan, dan energi, termasuk proyek yang mencakup penyewaan lahan negara hingga 49 tahun.

China juga menjadi kreditur bilateral terbesar Kirgizstan. Export-Import Bank of China memegang sekitar USD1,6 miliar atau 28 persen dari total utang publik luar negeri Kirgizstan yang mencapai USD8,9 miliar.

Bagi negara berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa yang ratusan ribu warganya bekerja di luar negeri—terutama di Rusia—dan bergantung pada remitansi, kedatangan puluhan ribu pekerja asal China menjadi isu yang sensitif. Kekhawatiran mengenai lapangan kerja, kepemilikan lahan, eksploitasi sumber daya alam, hingga kedaulatan nasional pun semakin menguat.

Insiden Kecil, Reaksi Besar

Sentimen tersebut semakin terlihat di media sosial. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah video yang melibatkan warga negara China beredar luas dan memicu kontroversi nasional.

Salah satu video memperlihatkan dugaan penggunaan peralatan listrik untuk menangkap ikan di kawasan lindung Arpa. Video lain menunjukkan wisatawan asal China berenang di kawasan terlarang di pesisir Danau Issyk-Kul, wilayah yang tidak boleh diakses warga setempat. Di media sosial juga beredar tuduhan bahwa warga China menangkap burung liar secara ilegal.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |