loading...
FLORIDA - Presiden Donald Trump menegaskan Amerika Serikat (AS) mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Langkah ini mencakup perekrutan perusahaan-perusahaan AS untuk menginvestasikan miliaran dolar guna memulihkan industri minyak negara tersebut yang kini hancur.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah mencapai 303 miliar barel atau sekitar seperlima dari total cadangan dunia. Kekayaan sumber daya ini diprediksi akan menjadi poros utama bagi masa depan negara tersebut. Meski dampak jangka pendek terhadap harga minyak masih sulit diprediksi karena pasar komoditas tutup pada akhir pekan, Trump menegaskan bahwa AS akan mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu.
"Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di dunia untuk masuk, mengucurkan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah," ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago dikutip dari CNN Internasional, Minggu (4/1/2026).
Baca Juga: Rezim Maduro di Venezuela Tamat, Jatuh Sudah Minyak Terbesar di Dunia ke Tangan AS
Venezuela memimpin dunia dengan cadangan minyak mentah terbukti sebesar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi dan mewakili hampir 20% cadangan global pada 2023. Upaya pemulihan yang dipimpin AS berpotensi menjadikan Venezuela pemasok minyak yang jauh lebih besar, sekaligus menciptakan peluang baru bagi perusahaan energi Barat. Hal ini juga dapat menjaga stabilitas harga global, meskipun harga yang terlalu rendah berisiko menurunkan minat produksi beberapa perusahaan domestik AS.
Namun, pemulihan ini tidak akan terjadi dalam semalam. Meski akses internasional akan dibuka penuh, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya yang sangat besar untuk mengaktifkan kembali produksi minyak Venezuela. Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, menyatakan bahwa pipa-pipa mereka tidak diperbarui selama 50 tahun, ditaksir butuh biaya sebesar USD58 miliar untuk mengembalikan produksi ke level puncak.
"Bagi sektor minyak, ini bisa menjadi peristiwa bersejarah," kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group. "Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya telah merampok industri minyak Venezuela."

















































