Sudah Mengebom Iran, Patutkah Donald Trump Meraih Hadiah Nobel Perdamaian?

3 weeks ago 13

loading...

Pencalonan Presiden AS Donald Trump sebagai peraih Hadiah Nobel Perdamaian memicu kontroversi, terlebih dia telah memerintahkan pengeboman terhadap 3 situs nuklir Iran. Foto/X @realDonaldTrump

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump begitu terobsesi untuk memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Dia bahkan merasa bersaing dengan mantan presiden Barack Obama, yang telah meraih penghargaan internasional tersebut.

"Sudah lama Presiden Trump dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada 31 Juli, yang memicu reaksi ketidakpercayaan dan sarkasme dari para penentang presiden dari Partai Republik tersebut.

"Sejak kembali berkuasa pada 20 Januari, presiden AS rata-rata telah menjadi perantara satu kesepakatan damai atau gencatan senjata per bulan," kata Leavitt, mencontohkan mediasi yang dilakukannya antara India dan Pakistan; Kamboja dan Thailand; Mesir dan Ethiopia; Rwanda dan Republik Demokratik Kongo (DRC); Serbia dan Kosovo; dan lainnya.

Baca Juga: Iran Tuntut Kompensasi karena Situs Nuklirnya Dibom, AS: Sungguh Menggelikan

Juru bicara utamanya itu juga menyebut Iran, tempat Trump memerintahkan pengeboman AS terhadap tiga fasilitas nuklir republik Islam tersebut, sebagai bukti keputusan yang diklaim Leavitt telah berkontribusi pada perdamaian dunia.

Dia tidak menyebutkan konflik di Ukraina, yang berulang kali dijanjikan Trump untuk diakhiri pada "hari pertama" masa jabatannya, atau perang di Gaza, yang masih berlangsung dan AS memasok senjata ke Israel.

Bagi beberapa pemimpin asing, menyebut penghargaan bergengsi tersebut telah menjadi tanda niat baik diplomatik terhadap seorang presiden Amerika yang membayangkan dirinya sebagai pembawa damai.

Pakistan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, begitu pula Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam pertemuan awal Juli di Gedung Putih, seorang jurnalis bertanya kepada presiden Liberia, Senegal, Mauritania, Guinea-Bissau, dan Gabon apakah Trump pantas menerima penghargaan tersebut.

Menikmati pujian dari para pemimpin Afrika, Trump yang tersenyum berkata: "Kita bisa melakukan ini sepanjang hari."

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |