loading...
Rusia tidak bertindak saat Venezuela diserang militer AS dan Presiden Nicolas Maduro ditangkap pasukan khusus Amerika. Foto/Kremlin.ru
CARACAS - Pada November 2025, Rusia menyatakan siap menolong Venezuela ketika Amerika Serikat (AS) meningkatkan pengerahan aset-aset tempurnya, termasuk kapal induk tercanggih, ke dekat negara Amerika Selatan tersebut.
Namun, pernyataan Moskow itu terkesan kosong karena tidak bertindak ketika Washington meluncurkan meluncurkan agresi singkat terhadap Venezuela dan pasukan khususnya menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores
"[Rusia] siap untuk bertindak sepenuhnya dalam kerangka kewajiban yang disepakati bersama dalam perjanjian ini dengan sahabat-sahabat Venezuela kami," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada saat itu.
Perjanjian yang dimaksud Lavrov itu adalah perjanjian kemitraan strategis kedua negara yang diteken pada Mei lalu. Meskipun kemitraan tersebut belum berlaku, Lavrov mengindikasikan bahwa hal itu "hampir terwujud".
Baca Juga: Begini Cara Pasukan Khusus Delta Force dan CIA Amerika Menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Tiga bulan setelah penandatanganannya, Venezuela meresmikan fasilitas untuk memproduksi amunisi Kalashnikov, dan Oktober lalu, sebuah pesawat kargo Rusia yang disanksi Barat dan dikenal karena mengirimkan material pertahanan mendarat di Venezuela. "Sekarang sudah pada tahap akhir ratifikasi. Ini menyatakan perlunya melanjutkan kerja sama keamanan kita, termasuk kerja sama militer-teknis," kata Lavrov.
Alexei Zhuravlev, anggota Komite Pertahanan Parlemen Rusia, menyatakan tidak ada yang menghalangi Moskow untuk memberikan "perkembangan baru" kepada Venezuela.
"Kami memasok negara ini dengan hampir seluruh jenis senjata, mulai dari senjata ringan hingga pesawat terbang...Amerika Serikat mungkin akan mendapatkan beberapa kejutan," katanya.
Meskipun Venezuela belum meminta bantuan militer atau persenjataan Rusia, seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa rudal balistik jarak menengah Oreshnik mungkin akan dikirim.
Klaim senjata Rusia di Venezuela akan mengejutkan AS tidak terbukti.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan operasi militer AS untuk mengevakuasi presiden Venezuela dalam serangan dini hari di Caracas membutuhkan perencanaan dan latihan berbulan-bulan dan lebih dari 150 pesawat AS digunakan.
"Kata integrasi tidak menjelaskan kompleksitas misi tersebut, sebuah evakuasi yang sangat tepat—melibatkan lebih dari 150 pesawat yang lepas landas di seluruh Belahan Bumi Barat," kata Caine dalam konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump, yang dikutip Reuters, Minggu (4/1/2025).
"Maduro dan istrinya, keduanya didakwa, menyerah dan ditahan oleh Departemen Kehakiman, dibantu oleh militer AS yang luar biasa dengan profesionalisme dan ketelitian, tanpa korban jiwa dari pihak AS," kata jenderal tertinggi AS tersebut.

















































