Liputan6.com, Jakarta - Ketertarikan Wahyu Bagus Yuliantok, atau lebih dikenal Bagus, dalam berorganisasi sudah tumbuh sejak ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2004-2009 silam.
Saat itu, ia mengemban amanah sebagai Wakil Mahasiswa di Majelis Wali Amanat ITB yang menjembatani aspirasi dan kepentingan mahasiswa ke pihak universitas. Di sana, skill organisasi dan jiwa kepemimpinannya ditempah karena ia berada di satu forum bersama tokoh-tokoh nasional, seperti Haryanto Dhanutirto, H.S. Dillon, Hatta Rajasa, Yani Panigoro, Benny Soebianto dan lainnya.
Setelah beranjak dari bangku perkuliahan, pria asal Madiun ini sempat mengabdi sebagai Asisten Riset di ITB, sebelum akhirnya berlabuh sebagai Management Trainee (MT) di Bank Mandiri pada tahun 2010.
Sebagai penugasan pertama, ia harus ditempatkan di Sorong, Papua Barat. Bukannya kesedihan yang ia rasakan, ia malah senang karena dapat menyaksikan langsung keindahan alam Kepulauan Raja Ampat di bumi Indonesia Timur dan mengabdi di sana.
"Di Sorong, saya tidak hanya bekerja, namun juga aktif di berbagai kegiatan sosial. Saat itu kami membantu program Kapal Kalibia untuk meningkatkan literasi masyarakat pesisir Kepulauan Raja Ampat terkait kelestarian ekosistem laut. Saya menjadi fundraiser di program itu," kenang Bagus.
Tak lama, Bagus dipromosikan sebagai Executive Assistant yang membantu Ogi Prastomiyono yang saat itu menjabat sebagai Managing Director of Human Capital Bank Mandiri tahun 2011. Di posisi ini, kemampuan manajemen organisasi Bagus semakin meningkat karena langsung menangani semua organisasi yang dipimpin oleh Ogi Prastomiyono seperti Forum Human Capital Indonesia (FHCI), Ikatan Bankir Indonesia (IBI), dan lainnya.
Selanjutnya, perjalanan karir Bagus terus menanjak hingga di jabatan Senior Relationship Manager of Corporate Banking di Bank Mandiri. Selama di Bank Mandiri, berbagai prestasi juga ia torehkan, antara lain berhasil menjadi the best employee of the year karena keberhasilannya meningkatkan bisnis Bank Mandiri dengan BUMN yang melaksanakan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, pelabuhan dan perkeretaapian dengan nilai proyek lebih dari Rp100 triliun.
"Saya terlibat dalam penyusunan struktur pembiayaan sindikasi beberapa proyek infrastruktur strategis, antara lain yang terbesar adalah Proyek Pembangunan LRT Jabodebek senilai Rp30 triliun.
Berkat performa keberhasilan tersebut, Bank Mandiri mengapresiasi saya dengan kesempatan mengikuti program Middle Management Development Program (MDP) berupa Executive Education di Ross School of Business, University of Michigan, Amerika Serikat," katanya.
Namun, semua pencapaian dan perjalanan karir tersebut tidak membuat Bagus melupakan mimpinya untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Pada tahun 2017, Bagus pun mempersiapkan diri untuk mendaftar beasiswa pendidikan pascasarjana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ia berhasil lolos seleksi LPDP yang tergolong ketat dan melanjutkan pendidikan S2 di University of Melbourne, Australia dengan jurusan Master of Management (Finance).
Selama menempuh perjalanan S2, Bagus tidak hanya fokus belajar dan menyelesaikan tugas kuliah, ia juga aktif berorganisasi dan menjadi sukarelawan di beberapa kegiatan sosial.
Salah satunya, Bagus membantu komunitas penjaga pantai di Melbourne untuk mengembangkan organisasi mereka melalui pendanaan dari pemerintah Australia. Atas inisiatifnya tersebut, ia pun memperoleh penghargaan Leaders in Communities Awards (LiCA) dari universitasnya.
Selanjutnya, setelah menyelesaikan pendidikan S2, Bagus pun ditempatkan di Indonesia Eximbank, salah satu Special Mission Vehicle (SMV) milik pemerintah yang fokus pada peningkatan devisa negara melalui pembiayaan ekspor.
Bagus terlibat dalam penyusunan program pemerintah untuk memberikan daya saing bagi pelaku usaha berorientasi ekspor atau dikenal dengan program National Interest Account (NIA).
Pada tahun 2022, Bagus dipercaya sebagai Division Head of NIA yang mengelola 7 (tujuh) program NIA, antara lain pembiayaan ekspor untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dan program peningkatan ekspor manufaktur perkeretaapian dan kedirgantaraan, antara lain pembiayaan kepada PT INKA (Persero) untuk ekspor gerbong kereta ke Bangladesh dan Australia serta PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk ekspor pesawat ke Senegal, Nepal dan Filipina.
Saat ini, Bagus menjalankan amanah sebagai Division Head of Corporate Business yang membantu pembiayaan ekspor di bidang pertambangan dan energi dengan fokus pada pembiayaan proyek-proyek hilirisasi mineral.
"Posisi saat ini memberikan saya kesempatan untuk berkontribusi secara nyata untuk Indonesia, yaitu terlibat langsung pada proyek-proyek pembangunan yang dapat meningkatkan surplus neraca perdagangan Indonesia, yang tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi Nasional," jelas Bagus.