loading...
Negara-negara di berbagai belahan dunia telah merespons tindakan AS mengebom Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro. Indonesia juga sampaikan sikap. Foto/Screenshot video CBS News
WASHINGTON - Banyak negara di seluruh dunia telah merespons tindakan Amerika Serikat (AS) yang mengebom Venezuela pada Sabtu pagi dalam operasi militer dramatis. Pasukan khusus Washington, Delta Force, juga menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, di mana sang presiden terguling akan diadili di Amerika.
Dalam sebuah pernyataan di X, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau mengatakan Venezuela sedang mengalami "fajar baru".
"Sang tiran telah pergi. Dia sekarang—akhirnya—akan menghadapi keadilan atas kejahatannya," kata Landau.
Baca Juga: Trump usai Pasukan Khusus AS Culik Maduro: Kami Akan Menjalankan Negara Venezuela!
Dalam sebuah pernyataan tak lama setelah pengeboman AS, pemerintah Maduro menuduh Washington melakukan agresi militer yang sangat serius.
“Venezuela menolak dan mengecam di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan rakyat Venezuela,” kata pemerintah Venezuela.
Ini Respons Dunia Internasional atas Agresi AS dan Penculikan Maduro
1. Kolombia
“Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka [AS] telah menyerang Venezuela,” tulis Presiden Kolombia Gustavo Petro dalam serangkaian pernyataan yang diposting di platform media sosial X.
“Republik Kolombia menegaskan kembali keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan kehidupan dan martabat manusia harus diutamakan daripada segala bentuk konfrontasi bersenjata,” kata Petro.
Dalam unggahan terpisah, dia mengatakan, "Kolombia menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin."
2. Kuba
Presiden Miguel Diaz-Canel mengeluarkan kecaman keras di media sosial, menuduh Washington melakukan serangan kriminal terhadap Venezuela dan menyerukan respons internasional yang mendesak.
Dalam sebuah unggahan di X, Diaz-Canel mengatakan apa yang disebut "zona perdamaian" Kuba sedang diserang secara brutal, menggambarkan tindakan AS sebagai "terorisme negara" yang ditujukan tidak hanya kepada rakyat Venezuela tetapi juga kepada "Amerika Kita" secara lebih luas.
Dia mengakhiri pernyataan tersebut dengan slogan revolusioner: "Tanah Air atau Kematian, Kita Akan Menang."
Dalam pernyataan yang diposting oleh berbagai kedutaan Kuba di seluruh dunia, Havana mengatakan bahwa mereka mengecam serangan militer AS terhadap Venezuela.
Pernyataan itu juga menuntut reaksi mendesak dari komunitas internasional, menggambarkan serangan itu sebagai “terorisme negara”.
3. Chile
Dalam pernyataan yang diposting di X, Presiden Chili Gabriel Boric Font menyatakan “keprihatinan dan kecaman” pemerintahnya terhadap tindakan militer AS di Venezuela.
“Kami menyerukan untuk mencari solusi damai atas krisis serius yang melanda negara ini,” katanya.
“Chile menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip-prinsip dasar Hukum Internasional, seperti larangan penggunaan kekerasan, non-intervensi, penyelesaian damai sengketa internasional, dan integritas teritorial negara. Krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog dan dukungan multilateralisme, dan bukan melalui kekerasan atau campur tangan asing," paparnya.
4. Meksiko
Dalam pernyataan di X, Presiden Claudia Sheinbaum mengatakan, “Meksiko mengutuk intervensi militer AS di Venezuela.”
Dia juga menyertakan dalam unggahannya sebuah pasal dalam Piagam PBB yang menyatakan: “Para Anggota Organisasi, dalam hubungan internasional mereka, harus menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun, atau dengan cara lain yang tidak sesuai dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.”
5. Brasil
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengutuk pengeboman AS dan penangkapan Maduro sebagai tindakan yang melampaui batas yang tidak dapat diterima.
“Menyerang negara-negara, dengan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan, di mana hukum yang terkuat mengalahkan multilateralisme,” tulis Lula di X.

















































