loading...
APAC Senior Strategy Director TRIPTK Laura Tan (kanan) dan CEO & Co-Founder H/Advisors Klareco Ang Shih Huei dalam diskusi strategi brand di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Foto/SindoNews/Mei Sada Sirait
JAKARTA - Banyak perusahaan Indonesia berhasil menjadi pemimpin pasar di dalam negeri. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu membuat sebuah perusahaan mampu berkembang menjadi brand global.
APAC Senior Strategy Director TRIPTK Laura Tan mengatakan tantangan terbesar justru muncul ketika perusahaan bertransformasi dari pemain lokal menjadi pemain internasional. Menurutnya, strategi yang berhasil di Indonesia belum tentu relevan di negara lain. “Apa yang sangat beresonansi di pasar lokal belum tentu merepresentasikan brand secara tepat di pasar internasional ,” katanya dalam diskusi media, Rabu (22/7/2026). Baca juga: Menekraf Dorong Kuliner Indonesia Menuju Pasar Global
Laura menilai perusahaan harus membangun fondasi sebagai brand internasional, mulai dari rantai pasok (supply chain), praktik bisnis, keberlanjutan (sustainability), hingga tata kelola sumber daya manusia yang inklusif. Selain itu, ekspansi global juga harus dibarengi kemampuan melakukan lokalisasi sesuai karakter setiap pasar. “Perusahaan harus bertanya apakah mereka sudah memiliki fondasi dan cara berkomunikasi layaknya brand internasional,” ujarnya.
Ia mencontohkan perusahaan multinasional yang menyesuaikan produknya di setiap negara, seperti perbedaan rasa makanan ringan di Amerika Serikat dan Asia. Menurut Laura, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar sebuah brand tetap relevan dalam jangka panjang. “Brand tidak pernah berhenti berkembang. Mereka harus terus beradaptasi,” tegasnya.
Sementara itu, CEO & Co-Founder H/Advisors Klareco Ang Shih Huei menilai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi strategi penting dalam membangun brand. Menurutnya, AI membantu perusahaan memahami konsumen sekaligus menciptakan komunikasi yang lebih personal.


















































