Di Balik Panggung Akselerator Lintasarta, Tiga Startup Merintis Jalan Menuju Kedaulatan AI Indonesia

1 week ago 8

loading...

Ovy Health bukan sekadar aplikasi pelacak siklus menstruasi. Ini adalah platform terintegrasi AI yang mendampingi perempuan dalam perjalanan kesehatan mereka. Foto: Ovy Health

JAKARTA - Di sebuah aula di Menara Arcadia, Jakarta, udara terasa penuh sesak oleh sesuatu yang lebih dari sekadar keramaian. Ada getaran antisipasi, campuran antara kegugupan dan ambisi yang membara.

Di ruangan itu, berkumpul 50 pendiri startup lokal, wajah-wajah terpilih yang berhasil menembus seleksi ketat. Mereka adalah angkatan pertama dari Semesta AI 2025, program yang digadang-gadang bukan sekadar akselerator bisnis biasa, melainkan sebuah deklarasi kemerdekaan teknologi bagi Indonesia.

Di Balik Panggung Akselerator Lintasarta, Tiga Startup Merintis Jalan Menuju Kedaulatan AI Indonesia

Di atas panggung, Bayu Hanantasena, President Director & CEO Lintasarta, berbicara dengan nada yang tegas namun penuh optimisme. Lintasarta, di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison, kini memposisikan diri sebagai "AI Factory" atau Pabrik Kecerdasan Buatan. Ini adalah langkah berani yang mengubah perusahaan dari penyedia layanan menjadi produsen inovasi.

“Lintasarta sebagai AI Factory di bawah Indosat Ooredoo Hutchison menjalankan peran strategis dalam menghadirkan Gerakan AI Merdeka,” ungkap Bayu. Kata-kata "Gerakan AI Merdeka" menggema di seluruh ruangan, memberikan bobot nasionalisme pada sebuah inisiatif teknologi.

Visi besar ini segera diterjemahkan ke dalam angka-angka konkret. Dari 50 startup yang hadir, 20 yang terbaik melaju ke fase pilot project, kesempatan langka untuk menguji dan memvalidasi solusi mereka langsung dengan jaringan klien Lintasarta yang luas.

Dengan membina talenta-talenta AI terbaik, Lintasarta sedang menanam benih untuk ekosistem masa depannya. Startup-startup ini akan menciptakan solusi relevan dengan pasar Indonesia, dan Lintasarta, sebagai "AI Factory," akan menyediakan infrastruktur, platform, dan akses pasar. Ini adalah siklus yang saling menguntungkan: Lintasarta berinvestasi pada inovator lokal, dan para inovator ini pada gilirannya akan memperkuat posisi Lintasarta sebagai pusat gravitasi ekosistem AI nasional.

Tiga Inovator, Tiga Medan Perang

Di antara 50 startup yang terpilih, tiga di antaranya merepresentasikan spektrum luas dari potensi AI untuk memecahkan masalah-masalah paling mendesak di Indonesia.

Mereka adalah para inovator di garis depan, masing-masing bertarung di medan perang berbeda: efisiensi rekrutmen, objektivitas penilaian talenta, dan revolusi kesehatan perempuan. Kisah mereka adalah jendela untuk melihat bagaimana kode dan algoritma dapat diubah menjadi solusi nyata yang menyentuh kehidupan manusia.

Mohammad Ikhsan & SQOUTS: Perang Melawan Waktu yang Terbuang

Di Balik Panggung Akselerator Lintasarta, Tiga Startup Merintis Jalan Menuju Kedaulatan AI Indonesia

Mohammad Ikhsan, CEO SQOUTS (wawancara.ai), melihat sebuah inefisiensi masif dalam dunia korporat: proses rekrutmen lambat, mahal, dan sarat akan bias manusiawi. Medan perangnya adalah tumpukan CV yang tak terbaca dan jadwal wawancara yang memakan waktu berbulan-bulan. Senjatanya adalah AI yang mampu bekerja tanpa lelah.

"Di wawancara.ai, kami melihat AI dapat membantu dalam proses rekrutmen dan asesmen," jelas Ikhsan kepada SindoNews lewat surel. "Misalnya, AI Interviewer kami memungkinkan perusahaan melakukan ribuan wawancara dan asesmen kandidat dalam satu hari, sesuatu yang sebelumnya dapat memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan."

SQOUTS menggunakan Natural Language Processing—kemampuan komputer untuk memahami percakapan manusia—untuk menganalisis jawaban kandidat. Teknologi ini dipadukan dengan Computer Vision, yang mengajarkan mesin untuk "membaca" ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Semua data diolah untuk memberikan insight objektif kepada tim HR, mengubah proses subjektif menjadi keputusan berbasis data.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |