AS Harus Terima 4 Kenyataan Akibat Perang Iran, dari Reputasi Rusak hingga Harus Akui Kekalahan

8 hours ago 9

loading...

AS harus terima banyak kenyataan buruk akibat perang Iran. Foto/X

TEHERAN - Mohamad Elmasry, seorang profesor di Doha Institute for Graduate Studies, menyatakan bahwa reputasi kekuatan militer AS telah mengalami kerusakan parah di mata internasional menyusul serangan terhadap Iran pada bulan Februari.

"Reputasi AS telah rusak secara permanen selama perang ini; tidak ada keraguan mengenai hal itu," ujar Elmasry kepada Al Jazeera.

Meskipun Trump mengklaim bahwa kapal-kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dengan frekuensi yang lebih tinggi, "pada akhirnya, data pelacakan mengungkap fakta yang sebenarnya, dan hanya sedikit kapal yang berhasil melintas," catatnya.

"Walaupun AS telah mengerahkan kekuatan penuh untuk mendukung upaya pelintasan malam hari secara diam-diam ini, mereka tidak mampu memulihkan lalu lintas pelayaran hingga mendekati tingkat normal," kata Elmasry.

"Pada titik tertentu, situasi akan mencapai tahap kritis yang menuntut pengambilan keputusan tegas. Entah Iran akan mengalah pada tuntutan Amerika—yang menurut saya sangat kecil kemungkinannya—atau Amerika Serikat harus menerima kenyataan baru di lapangan ini."

Alan Eyre, mantan diplomat AS sekaligus peneliti di Middle East Institute, mengatakan bahwa Iran kecil kemungkinannya akan melepas kendali atas Selat Hormuz karena Teheran semakin memandang jalur perairan tersebut sebagai sumber utama pencegahan strategisnya.

Eyre mengatakan kepada Al Jazeera bahwa prioritas utama kepemimpinan Iran adalah mencegah serangan di masa depan oleh AS dan Israel.

"Mereka memandang kendali atas selat tersebut sebagai satu-satunya cara untuk mewujudkannya," ujarnya. "Itu bukanlah aset tawar-menawar yang akan mereka lepaskan begitu saja."

Oleh karena itu, menurutnya, Washington dan negara-negara Teluk mungkin harus menerima kendali Iran atas selat tersebut—"setidaknya sebagai kenyataan jangka pendek"—jika mereka ingin membatasi dampak buruk terhadap ekonomi global.

Ia menambahkan bahwa upaya diplomasi telah semakin beralih dari Washington ke negara-negara Teluk dan Irak, seraya menyebut bahwa AS "tidak mau dan tidak mampu" menjalankan diplomasi yang diperlukan.

(ahm)

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |