Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran

6 hours ago 10

loading...

Para analis Israel sebut PM Benjamin Netanyahu arsitek kegagalan dan pembohong yang dipermalukan Presiden Donald Trump dalam kesepakatan AS dan Iran. Foto/Ammon News

TEL AVIV - Para analis Israel mengkritik keras Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, menggambarkannya sebagai pemimpin gagal dan pembohong. Mereka berpendapat bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mempermalukan Netanyahu dengan mengecualikannya dari kesepakatan Amerika dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Pada Senin malam, Netanyahu mengakui bahwa dia tidak mengetahui detail nota kesepahaman (MoU) yang dicapai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Baca Juga: Langka, Trump Bela Hak Iran Memiliki Rudal Balistik

Netanyahu mengeklaim telah menyelamatkan warga Israel dari "kehancuran nuklir" dengan melancarkan perang melawan Iran dan mengakui perbedaan pendapat dengan Trump. Menurutnya, perbedaan pendapat seperti itu "ada di keluarga terbaik sekalipun."

Sementara Trump mengatakan pada hari Senin bahwa AS dan Iran telah menandatangani perjanjian tersebut dan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya pada hari Jumat. Teheran hanya mengatakan bahwa nota kesepahaman tersebut dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni.

Para analis mengatakan bahwa penandatanganan elektronik sebelumnya dari kesepakatan tersebut tampaknya telah memungkinkan gencatan senjata sementara segera dan pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran, sementara upacara hari Jumat diharapkan akan meresmikan perjanjian tersebut dan memulai periode negosiasi teknis selama 60 hari.

"Arsitek Kegagalan"

Kolumnis Haaretz, Yossi Verter, melancarkan serangan pedas terhadap Netanyahu dalam sebuah artikel yang menyatakan: “Tanpa malu, arsitek kegagalan mengeklaim telah menyelamatkan Israel dari kematian massal. Itu adalah kebohongan lain di antara banyak kebohongan lainnya.”

“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di puncak apa yang oleh para ahli objektif akan didefinisikan sebagai kegagalan strategis kolosal bagi Negara Israel dan yang bisa dia katakan kepada warganya hanyalah: ‘Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, selama saya menjadi perdana menteri’,” tulisnya.

"Netanyahu telah mengatakan itu selama 30 tahun. Namun dalam waktu bersamaan, pada konferensi persnya pada hari Senin, Netanyahu mengklaim Israel hampir saja mengalami ‘kematian massal’—sebuah bencana yang konon telah dia cegah,” imbuh dia.

Tel Aviv dan Washington menuduh Teheran mengejar senjata nuklir yang mengancam Israel dan sekutu AS di kawasan tersebut. Namun, Iran mempertahankan bahwa program nuklirnya sepenuhnya damai, mengatakan bahwa mereka tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan bersikeras bahwa mereka tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Israel, yang menduduki wilayah Palestina serta tanah di Lebanon dan Suriah, secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir, meskipun belum pernah secara resmi mengakui memilikinya dan tidak tunduk pada pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Verter mengatakan bahwa sesumbar Netanyahu sebelumnya tentang "pencapaian bersejarah selama beberapa generasi" dan klaim bahwa proyek nuklir Iran telah ditunda selama beberapa dekade "tampaknya telah lenyap dalam kabut pahit yang menyelimuti Israel."

"Hilang juga tujuan-tujuan mulia yang menyertai setiap konfrontasi dengan Iran: menggulingkan rezim, atau setidaknya menciptakan kondisi untuk kejatuhannya; menghilangkan ancaman nuklir dan [rudal] balistik; memutuskan hubungan Teheran dengan organisasi proksinya," imbuh dia.

"Netanyahu tidak tahu apa isi nota kesepahaman yang ditandatangani secara digital oleh AS dan Iran di belakangnya. Orang Iran tahu. Orang Pakistan tahu. Mungkin orang Qatar juga tahu. Netanyahu, tampaknya, tidak tahu,” kata kolumnis tersebut.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |