loading...
Genjata senjata Gaza terancam gagal. Foto/X/@BrotherRasheed
GAZA - Israel menuntut pembebasan semua 50 sandera yang ditawan di Gaza. Itu diungkapkan seorang pejabat Israel yang menimbulkan keraguan apakah Israel akan menerima proposal baru untuk gencatan senjata 60 hari yang disetujui Hamas pada hari Senin.
Proposal yang diajukan oleh Qatar dan Mesir tersebut akan membebaskan sekitar separuh sandera dan "hampir identik" dengan proposal AS yang sebelumnya diterima Israel, menurut Qatar.
5 Alasan Gencatan Senjata Gaza Terancam Gagal
1. Israel Sudah Memiliki Rencana Masa Depan
Israel belum secara eksplisit menolaknya - tetapi juru bicara pemerintah Israel David Mencer mengatakan kepada BBC bahwa mereka tidak tertarik pada "kesepakatan parsial".
"Situasi telah berubah sekarang. Perdana Menteri telah menyusun rencana untuk masa depan Gaza," kata Mencer, dilansir BBC.
Akhir pekan ini, kabinet Israel diperkirakan akan menyetujui rencana militer untuk menduduki Kota Gaza, di mana serangan Israel yang semakin intensif telah mendorong ribuan orang mengungsi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan niat Israel untuk menaklukkan seluruh Gaza - termasuk wilayah tempat sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Palestina mencari perlindungan - setelah perundingan tidak langsung dengan Hamas mengenai kesepakatan gencatan senjata gagal bulan lalu.
Baca Juga: 10 Alasan Rusia Mau Berunding dengan AS Soal Ukraina
2. Hamas Hanya Akan Menyerahkan 10 Sandera Hidup
Sumber-sumber Palestina mengatakan proposal tersebut akan menyerahkan 10 sandera hidup dan 18 sandera tewas sementara kedua belah pihak merundingkan gencatan senjata permanen dan pemulangan sandera lainnya.
Israel yakin bahwa hanya 20 dari 50 sandera yang masih hidup setelah 22 bulan perang.
Pada Senin malam, sebuah pernyataan Hamas mengumumkan bahwa kelompok bersenjata tersebut dan faksi-faksi Palestina lainnya telah menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan oleh mediator Mesir dan Qatar kepada delegasi mereka di Kairo sehari sebelumnya.
Pejabat Hamas, Taher al-Nunu, mengatakan kepada Al-Araby TV bahwa mereka tidak meminta amandemen apa pun terhadap proposal tersebut, yang ia gambarkan sebagai "kesepakatan parsial yang mengarah pada kesepakatan komprehensif".