25 Tahun setelah Serangan 9/11, Amerika Serikat Terjebak dalam Perang Tanpa Akhir

2 hours ago 4

loading...

Menara Kembar WTC di New York, AS, ditabrak pesawat yang dibajak dalam serangan 11 September 2001 atau serangan 9/11. Foto/Wikipedia

WASHINGTON - Sejelas langit tanpa awan pada pagi September itu, Jenna Jacobs McPartland masih mengingat saat ketika segalanya berubah.

“Saya sedang membersihkan kamar mandi sambil menonton Today Show di latar belakang, dan saat itu saya sedang hamil sembilan bulan,” kenang perempuan berusia 52 tahun itu melalui sambungan telepon. “Saya rasa mereka sedang menayangkan segmen ‘Today Throws a Wedding’ ketika berita itu tiba-tiba masuk.”

Baca Juga: Membongkar Tragedi 9/11 dan Alasan Osama bin Laden Menyerang AS

Sebuah pesawat menabrak Menara Utara World Trade Center (WTC) di New York. McPartland tidak tahu bahwa suaminya, Ariel Jacobs, sedang menghadiri sebuah konferensi di restoran Windows on the World yang berada di kompleks tersebut.

“Saya menelepon kantornya dan berkata, ‘Hei, nyalakan TV. Kalian tahu apa yang sedang terjadi?’ Asistennya menjawab, ‘Ya Tuhan, Jenna, dia ada di sana'. Seluruh dunia seakan menghilang dan muncul perasaan seperti kehampaan yang runtuh.”

Ariel Jacobs tidak sempat melihat putranya, Gabriel, yang lahir enam hari setelah 11 September 2001. McPartland, yang saat itu tinggal di Briarcliff Manor, New York, kemudian menikah dua kali lagi, mendirikan lembaga amal untuk mendukung orang-orang yang berduka, serta menjadi koki dan pengusaha restoran.

Setiap peringatan serangan 11 September 2001 atau serangan 9/11, dia mengadakan piknik di pemakaman tempat beberapa potongan tulang jenazah suaminya dimakamkan.

Berbicara dari Fairfield, Connecticut, McPartland mengatakan, “Ari adalah orang yang luar biasa ceria dan sangat menghargai hidupnya. Saya secara sadar memilih untuk menghormatinya dengan menjalani hidup seceria mungkin. Itu tidak selalu mudah. Saya masih cukup sering menangis. Kalau ada film yang menampilkan gedung diledakkan, atau ketika saya membaca buku dan tiba-tiba ada penyebutan santai tentang ‘setelah 9/11’ atau semacamnya, saya bisa langsung terkejut. Duka itu menemukan tempat untuk tinggal di dalam hati, dan kita mengunjunginya.”

McPartland dan keluarga korban lainnya telah belajar hidup bersama duka tersebut selama 25 tahun terakhir. Namun, Amerika Serikat secara keseluruhan kesulitan memikul beban serangan teroris paling mematikan dalam sejarahnya.

Negara paling kuat di dunia itu merespons dengan melancarkan teror versinya sendiri, mengkhianati sejarahnya sebagai tempat berlindung yang aman bagi para imigran, dan mempertentangkan sesama warga Amerika.

Kepahlawanan, niat baik, dan persatuan yang muncul pada awal tragedi 9/11 perlahan berubah menjadi perpecahan di dalam negeri dan merosotnya otoritas moral Amerika di mata dunia.

McPartland menambahkan, “Saya sangat sedih, bahkan hampir marah, karena kematian suami saya digunakan untuk memicu lebih banyak kekerasan. Yang membuatnya terbunuh sejak awal adalah tindakan menganggap orang lain sebagai ‘bukan bagian dari kita’. Dan ketika kami sebagai orang Amerika gagal mempelajari pelajaran itu dan sebagai bangsa memilih untuk memperlakukan kelompok lain sebagai pihak yang berbeda—baik imigran maupun negara lain—itu berarti tragedi tersebut semakin dalam. Bagi saya, hal itu sungguh menyakitkan dan sulit dipahami.”

Kehilangan yang Tak Terucapkan

Pada 10 September 2001, Presiden AS saat itu; George W Bush, melakukan perjalanan ke Florida untuk mendorong rancangan undang-undang reformasi pendidikan. AOL sedang berupaya memperoleh saham besar dalam unit kabel AT&T. Petenis muda Lleyton Hewitt, yang saat itu berusia 20 tahun, baru saja menyingkirkan Pete Sampras untuk memenangkan US Open.

Amerika tampak tak terkalahkan. Negara itu telah memenangkan Perang Dingin dan menikmati dekade 1990-an yang relatif damai sebagai “negara yang tak tergantikan”, meminjam istilah Menteri Luar Negeri Madeleine Albright. Pada tahun fiskal 1998 hingga 2001, pemerintah federal AS bahkan mencatat surplus anggaran selama empat tahun berturut-turut.

Namun, apa yang disebut sebagai “abad Amerika” berakhir secara apokaliptik keesokan paginya.

Hampir 3.000 orang tewas ketika 19 pembajak, yang menurut AS berasal dari kelompok al-Qaeda, mengambil alih empat pesawat penumpang. Dua pesawat ditabrakkan ke Menara Kembar World Trade Center, satu menghantam Pentagon di Arlington, Virginia, sementara pesawat keempat jatuh di sebuah ladang di Pennsylvania bagian barat.

Salah satu gambaran paling memilukan adalah para pekerja kantor yang melompat menuju kematian dari Menara Kembar yang terbakar.

Di dinding National September 11 Memorial & Museum di New York terdapat kutipan dari James Gilroy, seorang warga Lower Manhattan: “Dia mengenakan setelan bisnis, rambutnya berantakan… Perempuan itu berdiri di sana selama beberapa menit, kemudian memegangi roknya dan melompat dari tepian… Saya berpikir, betapa manusianya dia, betapa sederhananya, sampai masih sempat memegangi roknya sebelum melompat.”

Tak terbayangkan, kedua menara setinggi 110 lantai itu akhirnya runtuh, memuntahkan awan besar abu dan debu ke jalan-jalan Lower Manhattan. Potongan-potongan kertas berjatuhan seperti konfeti.

David Blight, sejarawan yang menjadi penasihat museum tersebut sebelum dibuka pada 2014, mengatakan, “Ini adalah peristiwa paling visual dalam sejarah—begitu banyak difoto, begitu banyak rekaman, begitu banyak dokumenter. Peristiwa ini begitu mengejutkan dan mengerikan sehingga Anda tidak mungkin menyaksikannya tanpa meneteskan air mata. Salah satu hal yang tidak boleh pernah hilang dari 9/11 adalah duka mendalam yang menyertainya. Ada rasa kehilangan yang benar-benar tak terucapkan.”

Pada awalnya, tragedi itu justru memunculkan sisi terbaik Amerika.

Petugas pemadam kebakaran dan para petugas tanggap darurat menunjukkan keberanian yang menginspirasi. Warga biasa mengantre untuk mendonorkan darah. Bangsa Amerika bersatu seperti jarang terjadi sebelumnya dan mendapat simpati dari seluruh dunia.

Rusia menyatakan dukungan, Iran menggelar aksi menyalakan lilin untuk mengenang korban, sementara NATO untuk pertama dan satu-satunya kali dalam sejarahnya mengaktifkan Pasal 5 tentang pertahanan kolektif.

Bush mengunjungi Ground Zero di New York dan, sambil memegang megafon, menyatakan: “Orang-orang yang meruntuhkan gedung-gedung ini akan segera mendengar dari kita semua.”

Mereka benar-benar mendengarnya. Amerika Serikat menginvasi Afghanistan untuk menghancurkan al-Qaeda dan menggulingkan Taliban yang melindunginya. Perang itu berlangsung selama 20 tahun—menjadi perang terlama dalam sejarah Amerika—sebelum Taliban akhirnya kembali berkuasa.

Bush kemudian menyerang Irak dengan dalih bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, sebuah klaim yang ternyata keliru. Perang tersebut menelan korban hingga ratusan ribu jiwa.

Perang global melawan teror kemudian berkembang menjadi operasi besar yang mencakup intervensi militer, operasi intelijen, penahanan, dan interogasi.

Sejumlah tersangka disiksa, termasuk melalui metode waterboarding di fasilitas rahasia CIA yang dikenal sebagai “black sites”.

Seperempat abad kemudian, sekitar 100 juta warga Amerika terlalu muda untuk mengingat tragedi 9/11. Mungkin hanya dari sudut pandang generasi inilah konsekuensi tragedi tersebut dapat dilihat secara lebih jelas.

Para sejarawan dan pakar kebijakan yang diwawancarai The Guardian menilai respons terhadap serangan 9/11 merupakan kesalahan strategis yang sangat besar. Respons tersebut membuat Amerika Serikat kehilangan fokus terhadap kebangkitan China dan pada akhirnya menanam benih kemundurannya sendiri.

Memburu Musuh Secara Serampangan

“9/11 adalah saat ketika berbagai hal mulai berjalan salah bagi Amerika Serikat,” kata Bill Galston, mantan penasihat kebijakan Presiden Bill Clinton.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |