Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China

4 hours ago 7

loading...

Analis geopolitik menilai narasi kebangkitan damai China telah berakhir di era Presiden Xi Jinping. Foto/INSS

JAKARTA - Pada November 1998, Presiden China saat itu, Jiang Zemin, berdiri di hadapan mahasiswa Waseda University di Tokyo dan menyampaikan pesan yang dimaksudkan untuk meredakan kekhawatiran dunia terhadap kebangkitan China.

“Sekalipun China berkembang nantinya, China tidak akan pernah menindas negara lain. China tidak akan pernah berupaya mencapai hegemoni,” ujar Jiang kala itu.

Baca Juga: Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuki Zona Pertahanan Udara Korea Selatan

Menurut Khedroob Thondup, mantan asisten pribadi Dalai Lama, janji Jiang itu sulit dipertahankan di era kepemimpinan China saat ini di bawah Presiden Xi Jinping.

Dia menilai arah kebijakan Xi menunjukkan pergeseran mendasar dari narasi "kebangkitan damai" menuju strategi yang lebih menekankan deterensi nuklir dan proyeksi kekuatan militer.

Perubahan itu tidak hanya terlihat dari retorika politik, tetapi juga dari modernisasi militer China dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Thondup, seperti dikutip dari European Times, Minggu (28/6/2026).

Dari Integrasi ke Proyeksi Kekuatan

Thondup menilai era Jiang Zemin ditandai oleh upaya mengintegrasikan China ke dalam tatanan internasional.

Saat itu, Beijing lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, hubungan dagang, dan diplomasi dibandingkan konfrontasi terbuka.

Pidato Jiang di Jepang pada 1998, menurutnya, menjadi bagian dari strategi tersebut. Kunjungan itu juga menghasilkan Deklarasi Bersama Jepang-China tentang Kemitraan Persahabatan dan Kerja Sama bagi Perdamaian dan Pembangunan, yang bertujuan meredakan ketegangan terkait sejarah perang dan isu Taiwan.

Dalam bidang pertahanan, lanjut Thondup, China ketika itu masih mempertahankan doktrin nuklir yang relatif terbatas dengan prinsip "minimum deterrence" serta kebijakan "no first use", yakni tidak menggunakan senjata nuklir sebagai serangan pertama.

Namun, menurutnya, pendekatan tersebut berubah di bawah kepemimpinan Xi Jinping.

Modernisasi Nuklir

Thondup menyoroti peningkatan pesat kemampuan nuklir China dalam beberapa tahun terakhir.

Dia mengutip penilaian pemerintah Amerika Serikat yang menyebut jumlah hulu ledak nuklir operasional China meningkat dari kisaran sedikit di atas 200 unit pada 2020 menjadi lebih dari 600 saat ini. Washington juga memperkirakan jumlah tersebut dapat melampaui 1.000 hulu ledak pada 2030.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |