Studi Kearney: Masa Depan Ekonomi Bergantung Kemampuan Adaptasi dengan AI

20 hours ago 15

loading...

Laporan Kearney menunjukkan, AI dengan cepat muncul sebagai pendorong utama daya saing ekonomi, mengubah cara negara menarik investasi, mengembangkan SDM, membangun industri, dan menciptakan nilai jangka panjang. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Kecerdasan buatan (AI) dengan cepat muncul sebagai pendorong utama daya saing ekonomi, mengubah cara negara menarik investasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun industri, dan menciptakan nilai jangka panjang. Hal ini terungkap dalam laporan konsultan manajemen global Kearney yang mengangkat judul How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI. Laporan itumenunjukkan AI bukan lagi sekadar tren teknologi atau instrumen peningkat produktivitas.

Sebaliknya, AI kini berkembang menjadi kapabilitas ekonomi fundamental yang mengubah berbagai asumsi yang selama puluhan tahun menjadi dasar strategi pembangunan ekonomi di berbagai negara. Potensi ekonomi AI sudah sangat besar. Baca juga: Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara

AI Generatif sendiri diperkirakan mampu menyumbang antara USD2,6 triliun-4,4 triliun per tahun bagi perekonomian global, dengan penerapan yang mencakup operasi layanan pelanggan, pemasaran dan penjualan, rekayasa perangkat lunak, hingga penelitian dan pengembangan, dan banyak sektor lainnya. Sementara itu, investasi global pada infrastruktur terkait AI terus tumbuh pesat, mencerminkan semakin pentingnya teknologi ini sebagai aset ekonomi strategis.

Tomoo Sato, Partner at Kearney dan penulis laporan tersebut mengatakan, AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi. “Negara yang unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah atau tenaga kerja terbesar, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar,” katanya, Senin (20/7/2026).

Untuk membantu para pemimpin menavigasi transisi ini, Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang mulai membentuk ulang cara negara bersaing dan bertumbuh di era AI. Pertama, tenaga kerja murah bukan lagi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Hal itu karena otomatisasi dan AI menekan kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa, menjadikan keunggulan berbasis biaya rendah tidak lagi menjadi faktor penentu seperti pada siklus pembangunan sebelumnya.

Kedua, daya komputasi menjadi aset strategis nasional. Akses terhadap chip, energi, infrastruktur cloud, dan talenta AI semakin menentukan kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, menjadikan kapasitas komputasi sama pentingnya dengan berbagai sumber daya ekonomi tradisional.

Ketiga, arus modal terkait AI mulai merombak peta perdagangan dan investasi global. Negara dan kawasan yang menguasai input strategis seperti semikonduktor, pasokan listrik, infrastruktur data, dan talenta khusus berpotensi memperoleh porsi nilai ekonomi yang lebih besar.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |