Rupiah Terancam Tekanan Global dan Kerentanan Domestik, Peneliti LPEM FEB UI Ungkap Bahayanya

6 hours ago 6

loading...

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky juga mengingatkan, bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas sosial apabila tidak diantisipasi dengan baik. Foto/Dok

JAKARTA - Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, bahwa perlambatan ekonomi dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, kecenderungan proteksionisme, fragmentasi ekonomi global, serta volatilitas harga energi. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF menjadi sekitar 3,0% pada 2026 mencerminkan meningkatnya risiko eksternal yang dapat memengaruhi neraca perdagangan, arus modal, dan stabilitas nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia menjelaskan, konflik geopolitik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta gangguan jalur pelayaran di Laut Merah berpotensi menghambat pasokan energi dan meningkatkan biaya logistik internasional. Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi impor, meningkatkan biaya produksi, dan memberi tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia serta nilai tukar rupiah.

Dari sisi domestik, Teuku Riefky menilai fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Namun, struktur pertumbuhan ekonomi dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dalam menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas.

Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Makin Eksis di RI, Banyak Kelas Menengah Jatuh Miskin

Penyusutan kelas menengah, meningkatnya pengangguran pada usia produktif, serta bertambahnya kelompok rentan dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, perlambatan sektor manufaktur dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor informal turut memperbesar kerentanan ekonomi rumah tangga.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |