loading...
Menteri Perang Amerika Serikat Peter Brian Hegseth atau dikenal sebagai Pete Hegseth. Foto/Eric Lee/The New York Times
JAKARTA - Pete Hegseth menjadi salah satu tokoh Amerika Serikat (AS) yang jadi sorotan dunia internasional terkait perang AS-Israel melawan Iran. Sebagai Menteri Perang atau Menteri Pertahanan, Hegseth menjadi salah satu arsitek perang yang kini meluas di Timur Tengah tersebut.
Nama Pete Hegseth melesat ke pusat kekuasaan global ketika dia ditunjuk oleh Presiden Donald Trump sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat pada 2025. Tak lama kemudian, Trump mengubah nama Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang, yang praktis mengubah nama jabatan Hegseth.
Baca Juga: Heboh, Menhan AS Pete Hegseth Pamer Tato Bertuliskan Kafir
Profil Pete Hegseth
•Nama: Peter Brian Hegseth (Pete Hegseth)
•Lahir: 6 Juni 1980 di Amerika Serikat
•Karier:
–Perwira US Army National Guard (pernah bertugas di Perang Irak dan Perang Afghanistan)
–Aktivis veteran (memimpin organisasi seperti Concerned Veterans for America)
–Pembawa acara di Fox News
•Jabatan: Menteri Perang AS (2025-sekarang)
Kenaikan kariernya terbilang tidak konvensional—dari veteran Garda Nasional, aktivis, hingga komentator di Fox News—langsung dibayangi oleh serangkaian laporan serius yang mempertanyakan karakter dan integritasnya.
Sejak proses konfirmasi menjadi Menteri Perang di Senat, Hegseth tidak hanya dinilai dari kapasitasnya sebagai mantan prajurit, tetapi juga dari tuduhan-tuduhan yang beredar luas di media: mulai dari dugaan rasisme, radikalisme ideologis, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Kombinasi ini menjadikannya salah satu figur paling kontroversial yang pernah memimpin Pentagon dalam beberapa dekade terakhir.
Dikenal Mengumbar Rasisme
Salah satu isu paling sensitif dalam profil Hegseth, seperti dilaporkan media-media AS, adalah mengumbar rasisme. Sejumlah laporan media Amerika menyebut adanya pernyataan dan sikap yang dinilai merendahkan kelompok tertentu, serta penolakannya terhadap kebijakan diversity, equity, and inclusion (DEI) di militer. Kritik kerasnya terhadap program keberagaman dianggap oleh sebagian pihak sebagai bentuk perlawanan terhadap inklusivitas dalam tubuh angkatan bersenjata Amerika.
Dalam beberapa laporan, seperti The Washington Post, muncul kesaksian dari mantan kolega yang menggambarkan pandangan Hegseth sebagai eksklusif dan berpotensi diskriminatif. Bahkan, terdapat klaim kontroversial dari whistleblower terkait pernyataan ekstrem, meski klaim tersebut tidak pernah diuji di pengadilan.









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5451323/original/095880900_1766281401-Daftar_Aplikasi_dan_Game_Paling_Banyak_Diunduh_di_Indonesia_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4203050/original/004339100_1666688306-Aplikasi_Whatsapp_Down-Angga-3.jpg)







