
Penelitian ini menguraikan lima perubahan bagi penyandang dana dan lembaga perantara untuk memperkuat dampak organisasi nirlaba.
, /PRNewswire/ — Tujuh dari 10 pemimpin organisasi nirlaba yang disurvei di Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyebutkan bahwa kurangnya pendanaan jangka panjang yang fleksibel menjadi tantangan krusial sehingga banyak organisasi tidak dapat berinvestasi pada peningkatan kemampuan atau memperluas dampak mereka, menurut penelitian terbaru dari The Bridgespan Group.
Temuan ini muncul di saat yang sangat penting. Kekayaan pribadi dan ambisi filantropi di Asia Tenggara telah bertumbuh pesat, namun belum menghasilkan sektor nirlaba yang lebih kuat dan siap memberikan dampak yang berkelanjutan dan dapat ditingkatkan. Di saat yang sama, permintaan akan layanan nirlaba meningkat karena perubahan demografi, tekanan iklim, dan kesenjangan dalam sistem publik.
Dengan latar belakang ini, penelitian Bridgespan menyoroti tantangan yang dihadapi organisasi nirlaba di lapangan dan solusinya.
"Organisasi nirlaba di Asia Tenggara adalah bagian penting dari tatanan sosial di kawasan ini dan berperan sebagai mitra utama dalam menyediakan layanan penting, memberikan informasi bagi kebijakan, dan mendorong inovasi sosial maupun iklim," kata Keeran Sivarajah, mitra Bridgespan dan salah satu penulis laporan tersebut. "Namun, penelitian kami menemukan bahwa banyak organisasi nirlaba beroperasi dengan sumber daya yang hanya cukup untuk mempertahankan aktivitas sehari-hari dan tidak cukup untuk berinvestasi pada inovasi atau mengembangkan kekuatan organisasi yang dibutuhkan guna memperluas dampak mereka."
Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 160 pemimpin organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, lokakarya dan wawancara dengan para pemangku kepentingan sektor terkait di masing-masing negara. Laporan ini juga mengidentifikasi berbagai kendala sistem yang membatasi efektivitas organisasi nirlaba.
Lebih dari 40 persen melaporkan bahwa cadangan dana operasional mereka hanya cukup untuk bertahan selama kurang dari enam bulan. Organisasi nirlaba yang lebih kecil, dengan berkantor pusat di luar Jawa di Indonesia dan di luar Semenanjung Malaysia, bahkan tiga sampai lima kali lebih cenderung memiliki cadangan dana operasional selama kurang dari tiga bulan saja.
"Organisasi nirlaba di Asia Tenggara bukannya kurang berambisi. Mereka dibatasi oleh aliran pendanaan dan sistem yang mendukung mereka," kata Keeran. "Banyak yang memiliki cukup dana untuk bertahan, tapi tidak cukup untuk berkembang."
Laporan ini menguraikan lima perubahan bagi penyandang dana, organisasi nirlaba, dan lembaga perantara agar lebih berdampak di Asia Tenggara, dengan menggabungkan diagnosis yang jelas dan langkah-langkah praktis yang dapat ditindaklanjuti:
- Mengubah pendanaan menjadi bersifat jangka panjang dan fleksibel agar organisasi nirlaba dapat membuat perencanaan ke depan dan berinvestasi pada kemampuan inti.
- Menargetkan investasi untuk mengembangkan pemimpin, staf, dan dewan pengurus organisasi nirlaba dengan memperkuat tata kelola, manajemen, dan efektivitas organisasi.
- Mendukung organisasi kecil dan organisasi di luar kota-kota besar dengan membantu mengatasi kesenjangan geografis dan struktur dalam hal pendanaan dan penyediaan layanan.
- Menciptakan layanan data dan dukungan bersama dengan meningkatkan koordinasi, pembelajaran, dan efisiensi operasional di seluruh sektor ini.
- Memperkuat jalur bagi organisasi nirlaba dan pemerintah untuk bekerja sama agar dapat menyelaraskan prioritas bersama dan meningkatkan dampak.
"Perubahan ini praktis dan dapat dicapai," kata Ying Yap, Manajer di Bridgespan dan salah satu penulis laporan tersebut. "Perubahan tersebut mencerminkan hal-hal yang diinginkan oleh pemimpin organisasi nirlaba, yakni investasi pada program dan kekuatan organisasi nirlaba serta ekosistem yang mendukungnya."
Laporan ini juga menyerukan agar penyandang dana menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan berdasarkan kepercayaan; agar organisasi nirlaba terus memperkuat praktik dan transparansi organisasi; agar lembaga perantara memperluas akses ke layanan bersama, pengembangan ahli, dan infrastruktur data.
"Sekarang inilah kesempatannya," kata Pritha Venkatachalam, salah satu penulis dan salah satu Pemimpin Bridgespan Asia dan Afrika. "Memperkuat organisasi nirlaba sangat penting agar secara efektif dapat menyalurkan pertumbuhan modal filantropi di kawasan ini kepada masyarakat yang paling rentan. Penelitian kami menunjukkan tingkat pengembalian investasi yang tinggi dalam perubahan ini."
Baca laporan lengkapnya: https://www.bridgespan.org/insights/strengthening-nonprofits-across-indonesia-malaysia-and-singapore
Tentang Bridgespan
Bridgespan Group (bridgespan.org) adalah organisasi nirlaba global yang bekerja sama dengan berbagai organisasi perubahan sosial, filantropis, dan investor berdampak untuk menjadikan dunia lebih setara dan adil. Layanan Bridgespan meliputi konsultasi dan pemberian saran strategis, pencarian dan uji tuntas, dan dukungan bagi tim kepemimpinan. Kami memetik pelajaran dari pekerjaan ini dan mengembangkannya dengan penelitian sendiri, mengidentifikasi berbagai praktik terbaik dan gagasan inovatif untuk dibagikan kepada sektor sosial. Lokasi pekerjaan kami di Boston, Delhi, Johannesburg, Mumbai, New York, San Francisco, Singapura, dan Washington, DC.
Logo – https://mma.prnasia.com/media2/2982850/The_Bridgespan_Group_Logo.jpg?p=medium600

















































