Menghadapi El Nino Godzilla: Moratorium Bakar Lahan Demi Keselamatan Publik

15 hours ago 14

loading...

Sudarsono Soedomo, Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University. Foto: Dok Pribadi

Sudarsono Soedomo
Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University

RISIKO peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat El Niño 2026–2027 berada pada tingkat yang sangat tinggi dan bersifat eksponensial. El Niño kategori super atau Godzilla (dengan anomali suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa melebihi 2,0°C) akan menekan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia secara signifikan. Hal ini berdampak pada musim kemarau yang lebih panjang, lebih kering, dan lebih panas dari rata-rata.

Dari perspektif ilmu kehutanan, risiko ini diperparah oleh kondisi kelembapan bahan bakar organik (serasah, ranting, dan lapisan gambut) yang akan turun ke titik kritis. Ketika kadar air bahan bakar turun di bawah 15%, ambang batas penyalaan (ignition threshold) menjadi sangat rendah. Jika El Niño ini berpadu dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang juga mengurangi curah hujan di Sumatera dan Jawa, maka risiko karhutla akan mencapai tingkat bencana ekologis yang masif.

Kondisi Indonesia saat ini berada dalam paradoks kesiapan teknologi, namun kerentanan kelembagaan baru. Di satu sisi, kita jauh lebih siap secara teknologi dibandingkan 1997 atau 2015. Pasca-2015, sistem peringatan dini terintegrasi (seperti SiPongi dan pemantauan satelit BRIN/LAPAN) telah berkembang pesat, dan penegakan hukum terhadap korporasi pelanggar semakin mapan.

Namun, di sisi lain, kita menghadapi tantangan kelembagaan yang sangat serius. Pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada akhir tahun 2024 telah mengembalikan tanggung jawab restorasi ke berbagai kementerian (terutama KLHK) dan pemerintah daerah, yang berpotensi menciptakan fragmentasi tata kelola dan kekosongan koordinasi. Ditambah lagi, perubahan iklim telah meningkatkan suhu dasar (baseline temperature), membuat ekosistem gambut yang sudah terdegradasi tahun-tahun sebelumnya menjadi jauh lebih rapuh dan mudah terbakar. Tekanan alih fungsi lahan di area marginal juga terus meningkatkan probabilitas penyalaan api.

Kawasan gambut mutlak masih menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Gambut menyimpan cadangan karbon organik yang sangat masif. Ketika gambut mengering karena penurunan muka air tanah (water table) akibat El Niño, ia berubah menjadi bahan bakar yang sangat efisien. Kebakaran di lahan gambut adalah ground fire (api bawah tanah) yang merambat di dalam lapisan tanah, tidak terlihat dari permukaan, menghasilkan asap yang sangat tebal dan beracun, serta hampir mustahil dipadamkan dengan cara konvensional tanpa melakukan pembasahan kembali (rewetting) secara masif.

Wilayah yang paling rentan secara historis dan klimatologis adalah Sumatera bagian timur dan selatan (terutama Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan) serta Kalimantan bagian selatan dan tengah (Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur).

Prinsip Force Majeure dan Daya Dukung Lingkungan

Anggapan bahwa membakar lahan skala kecil relatif aman adalah mitos yang sangat berbahaya, terutama saat El Niño. Dalam ilmu kehutanan, perilaku api ditentukan oleh Fire Weather Index (FWI) yang menggabungkan suhu, kelembapan relatif, kecepatan angin, dan curah hujan sebelumnya.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |