Komunitas Muslim Korea Semarakkan Bulan Suci Ramadan 1447 H dengan Beragam Kegiatan

5 hours ago 3

loading...

Kultum atau ceramah agama, salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh Komunitas Muslim Korea (KMI) pada bulan suci Ramadan ini. Foto dok KMI

Komunitas Muslim Korea (KMI) aktif menyemarakkan dan mengisi bulan suci Ramadan 1447 hijriah dengan beragam acara. Mereka menggelar acara dan berkumpul di Masjid Al Anwar Incheon,Korea Selatan, sebuah masjid yang menjadi oase spiritual bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI), mahasiswa, dan keluarga muslim Indonesia yang tinggal di wilayah tersebut.

Sejak, 25 Februari 2026, Ramadan 1447 H tahun ini terasa istimewa bagi KMI ini. Selain bertepatan dengan masa libur panjang, para PMI memiliki kesempatan lebih lama untuk mempersiapkan diri secara ruhiyah. Biasanya, kesibukan pabrik dan padatnya jam kerja menjadi tantangan tersendiri dalam menghidupkan malam-malam Ramadan. Namun kali ini, suasana berbeda terasa. Wajah-wajah penuh semangat terlihat saat mereka membersihkan masjid, menyiapkan konsumsi sederhana, dan menyusun jadwal tarawih serta kajian.

“Kami bersyukur atas kesempatan ini. Para PMI yang tengah menikmati masa libur sangat antusias menyambut Ramadan. Momentum ini adalah karunia Allah. Kami berharap Ramadan ini menjadi sarana menambah wawasan, memperkuat ukhuwah, dan memperdalam pemahaman agama melalui kajian yang akan disampaikan oleh Dai Ambassador,” ujar Imam Hanafi, Presiden KMI.

Dalam salah satu kultum pembuka Ramadan yang disampaikan di Masjid Al Anwar, Ust H. M. Luqman Hambali, B.Sh., M.A. menegaskan bahwa kebahagiaan dalam menyambut Ramadan bukanlah perasaan biasa, melainkan bagian dari tanda keimanan.

Baca juga: Memasuki 10 Hari Terakhir Ramadan dan 10 Amalan Terbaiknya, Umat Muslim Wajib Tahu!

“Para ulama menjelaskan, siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Rasa bahagia itu bukan sekadar ekspresi lisan, tetapi tercermin dalam persiapan diri, kerinduan terhadap ibadah, dan kesungguhan memperbaiki amal. Apalagi jika Ramadan itu benar-benar kita isi dengan ibadah, menjaga puasa, menegakkan tarawih, membaca Al-Qur’an, dan tentu meningkatkan sedekah. Maka kebahagiaan itu berubah menjadi keselamatan,” tutur Ustaz H. M. Luqman Hambali, B.Sh., M.A.,.

Bagi para PMI, pesan tersebut terasa sangat menyentuh. Di negeri muslim minoritas, menjaga iman bukan perkara ringan. Lingkungan kerja yang heterogen, tantangan bahasa, serta perbedaan budaya kerap menjadi ujian tersendiri. Namun justru dalam kondisi seperti itulah, kebahagiaan menyambut Ramadan menjadi energi spiritual yang luar biasa.

Saat Korean Muslem Federation (KMF) menetapkan awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, rasa syukur menyelimuti PMI di Masjid Al Anwar. Tawa dan sapaan akrab menggantikan sejenak rasa rindu pada keluarga di kampung halaman. Malam harinya, saf-saf tarawih terisi rapat. Ada yang masih mengenakan jaket tebal karena dingin belum sepenuhnya pergi. Ada pula yang datang langsung dari tempat kerja. Di sela-sela rakaat, terdengar isak pelan doa-doa yang dipanjatkan doa untuk orang tua di Indonesia, untuk anak istri yang jauh, untuk rezeki yang halal dan berkah, serta untuk kekuatan menjaga istiqamah.

“Ramadan di Korea Selatan juga menghadirkan tantangan tersendiri terkait durasi puasa dan cuaca. Namun, justru di situlah nilai mujahadah terasa. Para PMI saling menguatkan, berbagi tips menjaga stamina, dan memastikan tidak ada yang merasa sendiri. Masjid menjadi pusat aktivitas sosial, diskusi keislaman, belajar membaca Al-Qur’an hingga merancang program kepedulian untuk sesama PMI yang membutuhkan,” tambah Ustaz Luqman.

Baca juga: Mengenalkan Makna Malam Lailatul Qadar, Penting Dilakukan pada Anak Sejak Usia Dini

(wid)

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |