loading...
Harga minyak dunia menguat setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Harga minyak dunia menguat setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Meski demikian, analis menilai kenaikan harga berpotensi terbatas karena pasar masih dibayangi prospek kelebihan pasokan minyak global.
Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV Warren Patterson mengatakan insiden terbaru di Teluk Persia menunjukkan kondisi keamanan di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih sehingga dapat memberikan dukungan sementara terhadap harga minyak.
"Respons Amerika Serikat yang terbatas mungkin dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap harga minyak. Namun, mengingat sentimen pasar yang masih bearish dan lemahnya pasar fisik, setiap kenaikan harga kemungkinan hanya akan berlangsung singkat," kata Patterson seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebutkan sebuah kapal tanker yang berlayar ke arah selatan terkena proyektil di sisi kiri lambung kapal sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman, sehingga memicu kebakaran. Seorang pejabat Amerika Serikat juga menyatakan Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Merespons insiden tersebut, harga minyak Brent naik 0,4% menjadi USD72,31 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% menjadi USD68,87 per barel pada perdagangan Selasa pagi waktu Singapura. Sebelumnya, harga minyak sempat melemah tajam setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.


















































