Intervensi Rupiah Kuras Cadangan Devisa Rp37 Triliun per Bulan, Sistem Keuangan Dinilai Tak Sehat

13 hours ago 8

loading...

Pakar Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Intervensi moneter untuk menahan laju pelemahan rupiah telah menguras cadangan devisa Indonesia sebesar USD8,4 miliar hanya dalam kurun Januari hingga April 2026, atau rata-rata USD2,1 miliar atau setara Rp37 triliun per bulan. Koondisi ini mencerminkan kegagalan sistemik pada fiskal, moneter, dan sektor riil yang saling memperburuk stabilitas ekonomi nasional.

"Kalau mau dibilang aman-aman saja, mestinya tidak ada kegelisahan. Faktanya ada tekanan terhadap fiskal, moneter, dan sektor riil," ujar Pakar Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy dikutip dari Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip pada Jumat (22/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ichsanuddin Noorsy: Beban Fiskal dan Sektor Riil Kian Berat

Noorsy menjelaskan depresiasi rupiah yang berpotensi menembus level Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS, jauh melampaui asumsi makro pemerintah di kisaran Rp16.500–Rp16.800 telah berdampak langsung pada peningkatan beban subsidi energi, kenaikan biaya impor, serta lonjakan beban utang luar negeri yang mencapai sekitar Rp9.920 triliun. "Artinya secara moneter kita tertekan, cadangan devisa tergerus, dan pada saat yang sama likuiditas di pasar juga tersedot," tegasnya.

Tekanan di sektor moneter kian diperparah oleh kebijakan Bank Indonesia yang terpaksa menaikkan suku bunga acuan demi menahan inflasi dan depresiasi. Langkah tersebut justru menyedot likuiditas pasar ke instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), membuat perbankan enggan menyalurkan kredit produktif dan memicu fenomena penumpukan pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) hingga Rp2.527,46 triliun.

Adapun dampaknya langsung menjalar ke sektor riil. Noorsy mencatat, perlambatan aktivitas produksi tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang berada di bawah level ekspansi, sementara rasio kredit bermasalah pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut meningkat. Kondisi ini menunjukkan kehati-hatian berlebih dari perbankan dan korporasi di tengah ketidakpastian.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |