Fitnah Kekuasaan: Bahaya Jabatan, Mengejar Dunia yang Tiada Akhir

10 hours ago 10

loading...

Fitnah tahta terjadi jika seseorang merasakan kesenangan dan kecintaan pada kekuasaan, ia ingin terus memegang jabatannya sehingga bisa menghalalkan segala cara agar bisa bertahan. Foto ilustrasi/ist

Kekuasaan, jabatan dan kewenangan yang dimiliki seseorang bisa menjadi fitnah yang luar biasa. Siapa saja yang termasuk dalam kalangan elit bisa mendapatkan fitnah ini. Karena sejatinya manusia tidak terbebas dari fitnah dan dosa. Tetapi mereka yang selalu berpegang teguh pada imannya akan Allah beri rahmat sehingga ia tidak terjebak dalam fitnah kekuasaan .

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya berjudul "Dunia di Tanganku, Akhirat di Hatiku" mengingatkan fitnah ini juga tak kalah dahsyatnya. Fitnah tahta terjadi jika seseorang merasakan kesenangan dan kecintaan pada kekuasaan. Ia ingin terus memegang jabatannya. Keinginan ini yang akhirnya membuat seseorang menghalalkan segala cara agar bisa bertahan.

Cara-cara tidak baik itulah yang kemudian mengakibatkan berbagai hal buruk. Seperti perselisihan, kebencian, kebohongan, dan kemunafikan. Tak jarang orang-orang akan saling menjatuhkan hingga saling membunuh akibat dari fitnah kekuasaan. Sejarah telah banyak mencatat peristiwa semacam itu.

Abu Ubaidah Yusuf mengatakan mungkin masih ingat jika musim kampanye, politisi berlomba-lomba mengejar kursi jabatan dengan berbagai cara sekalipun harus bertentangan dengan rambu-rambu agama. "Ada yang datang ke dukun, kuburan, melakukan ritual-ritual aneh, suap, mengumbar janji palsu, dan sebagainya," ujarnya.

Baca juga: Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tidaklah dua serigala yang kelaparan lalu dilepas kepada seekor domba lebih merusak agama seorang daripada rakusnya manusia terhadap harta dan takhta.” (HR at-Timidzi, Ah mad, Ibnu Hibban, dll. Dishahihkan al-Albani di dalam Shahih Targhib wa Tarhib: 1710 dan di syarah oleh al-Imam Ibnu Rajab)

Mengejar Dunia Tiada Akhir

Perbuatan mengejar dunia tidak ada kata finisnya. "Yakinlah, jika engkau hanya menuruti hawa nafsumu untuk mengejar dunia, maka engkau akan letih dan lelah dikejar oleh dunia, sedangkan dirimu terus berlari namun tidak akan pernah sampai pada garis finis untuk berhenti," ujar Abu Ubaidah Yusuf.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Pencinta dunia tak akan lepas dari tiga: kegundahan yang terus berlanjut, keletihan yang menerus, dan penyesalan yang tak akan berhenti.” (Ighatsatul Lahfan 1/87)

Setelah mengetahui fitnah dunia, maka janganlah engkau tertipu dengan gemerlapnya dunia. Ibnul Qayyim juga berkata, “Semakin cinta manusia terhadap dunia semakin malas dari ketaatan dan amal untuk akhirat sesuai dengan kadarnya.” (Al-Fawa‘id hlm. 180)

Agar terhindar dari berbagai fitnah dunia, penting bagi kita untuk mengenali jenis fitnah. Sehingga kita bisa mewaspadainya. Selain itu, kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah, dan meminta perlindungan dari berbagai macam fitnah. Manusia juga harus memahami bahwa kesenangan dunia adalah sementara. Dan ada kehidupan akhirat yang lebih kekal.

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi. Hendaknya kita bisa mengendalikan diri dan nafsu agar tidak diperbudak oleh wanita, harta, atau kekuasaan. Selain itu, kita harus memastikan di dalam hati tidak ada kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |