Ali Mochtar Ngabalin Sebut Trump Ingin Mendikte Teheran lewat Perang Iran-AS

6 hours ago 16

loading...

Guru Besar Hubungan Internasional BUFS Korea Selatan, Ali Mochtar Ngabalin memberikan analisis terkait eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat Vs Iran, dalam dialog Interupsi di iNews TV pada Kamis malam (30/4/2026). Foto/Binti Mufarida

JAKARTA - Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan, Ali Mochtar Ngabalin memberikan analisis tajam terkait eskalasi ketegangan dalam perang Amerika Serikat (AS) Vs Iran. Ngabalin menilai situasi saat ini bukanlah perang dalam arti konvensional, melainkan upaya Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk mendikte Teheran.

Hal tersebut disampaikan Ngabalin dalam dialog “Interupsi” yang disiarkan iNews TV pada Kamis malam (30/4/2026). Mantan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) ini menyoroti sosok Donald Trump sebagai pemimpin negara adikuasa yang memiliki karakter dominan.

Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran: Babak Baru Muncul di Selat Hormuz setelah Kegagalan AS

“Karena begini ya Karena begini Donald Trump itu kan sosok bagi seorang pemimpin yang suka tidak suka dia memimpin sebuah negara adikuasa, negara super power. Karena super power, adikuasa kemudian watak dan karakter dirinya yang boleh kita tidak setuju tidak setuju yang sama dengan negaranya, maka apa saja yang dia lakukan itu bisa terjadi,” katanya.

Lebih lanjut, Ngabalin berpendapat bahwa kekuatan militer dan politik antara kedua negara tidak berada pada level yang sebanding. Ia menyebut konflik ini sebagai perang asimetris di mana posisi Iran beserta kelompok proksinya jauh di bawah kekuatan Amerika Serikat.

“Sampai hari ini saya tetap berpendapat bahwa bukan saling perang ini sebetulnya. Tapi Amerika itu dengan kekuasaan super powernya dengan adi kuasanya, dengan watak dan pendirian Trump hari ini, dia sedang mendikte Teheran, dia mendikte loh, karena kita kan tahu ya perang ini kan perang asimetris tidak sebanding loh kalau kita cerita tentang Teheran kemudian dengan proxy-proxy nya yang ada di Nasrallah dahulu ya, sekarang Hizbullah di Lebanon Selatan kemudian Hamas untuk Palestina, dan lain-lain tidak ada kekuatannya nggak bisa dibandingkan,” tegasnya.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |