loading...
Gambar mata uang baru BRICS jika nanti diluncurkan. Foto/khaama.com
MOSKOW - Bayangkan satu dunia di mana negara-negara besar di luar Barat—termasuk Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan sekutunya—mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rencana pembentukan mata uang bersama BRICS mulai muncul sebagai strategi de-dolarisasi.
Jika diterapkan, implikasinya bisa mengguncang keseimbangan moneter global, menekan kekuatan ekonomi Amerika Serikat, serta meredefinisi pola perdagangan dan investasi dunia.
Berikut adalah sejumlah efek krusial yang perlu dipahami tentang potensi dampak mata uang BRICS baru terhadap dolar AS.
1. Tergerusnya Dominasi Cadangan Dolar AS (De-Dolarisasi)
BRICS tengah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota sebagai alternatif terhadap dolar.
Mata uang baru—yang direncanakan berbasis keranjang mata uang anggota dan cadangan emas—ditujukan sebagai alat untuk memperkuat kemerdekaan keuangan dan menekan volatilitas dolar.
Gerakan ini bukan sekadar retorika; Rusia dan China sudah mulai memperluas penerimaan perdagangan dalam mata uang domestik mereka, bahkan Rusia kini menyelesaikan sekitar 90% perdagangan BRICS tanpa dolar.
Demi menghadapi tekanan geopolitik dan sanksi finansial AS, langkah ini menjadi semakin mendesak.
Akibatnya, akan terjadi penurunan permintaan dolar secara global. Jika mata uang BRICS nanti diadopsi sebagai cadangan oleh bank sentral global, tekanan terhadap posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama akan meningkat.
Kajian Atlantic Council menyatakan saat ini dolar masih mendominasi cadangan dunia—sekitar 88% pertukaran valuta dan 59% cadangan internasional—namun tren de-dolarisasi terus meningkat.
2. Pengurangan Efektivitas Sanksi AS
Dolar selama ini menjadi instrumen geopolitik kuat untuk menekan negara lain melalui sanksi finansial. Namun, jika BRICS memiliki sistem pembayaran alternatif — seperti BRICS Pay — dan mata uang bersamanya, efektivitas alat tersebut akan berkurang drastis.
BRICS Pay adalah jaringan pembayaran independen yang memungkinkan transaksi lintas batas dengan mata uang lokal anggota, tanpa bergantung pada sistem SWIFT yang dikendalikan Barat.
Adanya mata uang tunggal yang terintegrasi dalam sistem ini akan menjadikan pemblokiran finansial lebih sulit dilakukan oleh AS.
Hal ini membuka peluang bagi negara-negara yang selama ini lemah terhadap tekanan finansial untuk tetap beroperasi secara multilateral tanpa dolar.