5 Perusahaan Minyak Paling Untung Besar saat Perang Iran, Saudi Aramco Paling Fantastis Capai Rp585 Triliun

1 hour ago 3

loading...

Saudi Aramco mendapatkan keuntungan paling fantastis hingga Rp585 triliun. Foto/X/@MiddleEastEye

WASHINGTON - Penutupan Selat Hormuz yang vital di Timur Tengah telah mengganggu aliran energi global, menyebabkan harga minyak melonjak selama berbulan-bulan dan berdampak pada pasar energi di seluruh dunia.

Ribuan mil jauhnya dari kawasan Teluk, harga kebutuhan rumah tangga melonjak di Amerika Serikat dan Eropa, sementara perusahaan-perusahaan minyak raksasa meraup keuntungan mencengangkan dari dampak perang terhadap Iran.
Perusahaan-perusahaan seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, dan BP terus meraup untung besar di tengah kekacauan ini, mengantongi laba miliaran dolar saat perang berlarut-larut tanpa tanda-tanda akan berakhir, serta meluasnya konflik hingga ke Laut Merah.

5 Perusahaan Minyak Paling Untung Besar saat Perang Iran, Saudi Aramco Paling Fantastis Capai Rp585 Triliun

1. ExxonMobil (Rp259 Triliun)

Melansir Al Jazeera, perusahaan minyak terbesar di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD14,5 miliar atau Rp259 triliun, dengan laba yang disesuaikan sebesar USD14,7 miliar, sekaligus mencatatkan laba kuartalan tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Hasil kinerja ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan margin penyulingan yang lebih kuat di tengah perang di Iran, meskipun angka laba tersebut sebenarnya berada di bawah ekspektasi Wall Street akibat gangguan produksi di Qatar.


2. Chevron (Rp215 Triliun)

Perusahaan terbesar kedua di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD12 miliar atau Rp215 triliun —laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun—yang melampaui perkiraan para analis.

Reuters melaporkan bahwa kenaikan harga minyak global mendongkrak kinerja operasi hulu maupun hilir; laba sektor hulu melonjak 200 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi $8,2 miliar, sementara laba sektor hilir mencapai USD4,9 miliar—kinerja terkuat Chevron sejak awal tahun 2010-an.

3. Shell (Rp179 Triliun)

Grup perusahaan Inggris-Belanda yang merupakan perusahaan minyak terbesar di Eropa ini mencatatkan kenaikan laba kuartal kedua hingga lebih dari dua kali lipat, dengan angka laba mendekati USD10 miliar (Rp179 Triliun) yang melampaui ekspektasi analis. Pencapaian ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas serta ketangguhan operasi gas alam cair (LNG) di tengah gangguan produksi di beberapa wilayah Timur Tengah.

4. TotalEnergies (102 Triliun)

Laba raksasa minyak asal Prancis ini naik 67 persen pada kuartal kedua—menjadi kuartal terbaiknya dalam hampir tiga tahun—yang didukung oleh harga minyak yang lebih tinggi serta margin keuntungan yang kuat dari penyulingan bahan kimia, sehingga mampu mengimbangi penurunan laba di sektor LNG. BP: Perusahaan minyak besar lain asal Inggris melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD5,73 miliar, lebih dari dua kali lipat angka USD2,35 miliar yang dicatat setahun sebelumnya dan melampaui perkiraan analis.

5. Saudi Aramco (Rp585 Triliun)

Lonjakan keuntungan ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan minyak besar Barat. Saudi Aramco, produsen minyak milik negara terbesar di dunia, juga melaporkan kenaikan tajam laba kuartalan—naik 44 persen secara tahunan menjadi USD32,69 miliar atau Rp585 Triliun. Pipa Timur-Barat milik Arab Saudi telah membantu mengurangi ketergantungan kerajaan tersebut pada Selat Hormuz untuk kegiatan ekspor.

Apa penyebab lonjakan laba ini?

Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa harga acuan global rata-rata untuk minyak mentah yang diperdagangkan di Intercontinental Exchange berada di angka $96,68 per barel pada paruh kedua tahun 2026; angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan $78,38 per barel pada kuartal pertama dan $66,71 per barel pada kuartal kedua tahun 2025.

“Hal ini berarti para produsen minyak, terutama mereka yang ekspornya tidak terdampak oleh hambatan lalu lintas di Selat Hormuz, mampu mendapatkan keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih kuat dari berbagai negara serta kilang minyak yang mencari alternatif selain minyak mentah Timur Tengah,” ujarnya.

“Selain itu, perusahaan minyak yang memiliki aset kilang dalam jumlah besar, khususnya di wilayah Barat, juga diuntungkan oleh margin kilang yang lebih kuat, karena harga produk olahan yang lebih tinggi dan pasokan produk yang lebih ketat—akibat gangguan pada ekspor Timur Tengah—telah mendongkrak profitabilitas,” tambahnya.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |