loading...
Invasi darat AS akan jadi jalan keluar Trump terburuk dari Perang Iran. Foto/X/ddfmarketing1
TEHERAN - Apa yang bermula sebagai upaya untuk menghancurkan Republik Islam Iran telah menciptakan masalah yang tidak diantisipasi oleh Washington: Selat Hormuz.
Selat ini, yang menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, telah menjadi medan pertempuran utama dalam perang tersebut. Sebagai tanggapan atas perang AS-Israel, Iran mengganggu lalu lintas maritim, sementara AS merespons dengan blokade angkatan laut.
Rasa frustrasi terkait situasi terkini di selat tersebut terlihat jelas, tidak hanya dalam alasan Trump menandatangani nota kesepahaman (MOU), tetapi juga dalam pernyataannya baru-baru ini yang "menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat".
Jika konsensus komprehensif tercapai antara kedua negara pesisir—Iran dan Oman—mengenai pengelolaan selat tersebut, ada kemungkinan AS akan memutuskan untuk menerapkan strategi yang belum pernah mereka gunakan sebelumnya: menempatkan pasukan darat di pulau-pulau Iran yang memiliki nilai strategis penting.
Melansir Al Maydeen, pulau-pulau strategis tersebut meliputi Qeshm, Larak, Hengam, Hormuz, Abu Musa, serta Greater Tunb dan Lesser Tunb. Terletak di titik tersempit selat atau di dekat pertemuan selat dengan Teluk Persia, pulau-pulau ini memegang peranan penting dalam memantau dan mengendalikan lalu lintas angkatan laut serta memberikan keunggulan pertahanan. Pulau terbesar adalah Qeshm, dengan Hengam terletak di sebelah selatannya. Larak, yang paling dekat dengan selat di sisi timur, berfungsi sebagai penjaga gerbang bagi Iran untuk mengontrol keluar-masuknya kapal saat selat masih terbuka selama perang berlangsung; di sebelah utaranya terletak Hormuz, yang juga dapat membantu fungsi penjagaan gerbang tersebut.
Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa terletak di dekat pertemuan antara Teluk Persia dan Selat Hormuz, membentuk pintu masuk bagian barat selat tersebut. Pulau-pulau yang lebih kecil ini membentuk gugusan yang rapat dan dikelilingi oleh perairan dangkal, yang memaksa kapal-kapal besar untuk melintas sangat dekat, sehingga menjadikannya sasaran empuk bagi kekuatan militer yang bersiaga di sana. Hal ini memberikan keuntungan strategis yang besar bagi Iran, karena pulau-pulau tersebut dapat berfungsi sebagai pos pemeriksaan yang diperkuat untuk mengatur atau menghentikan lalu lintas transit. Inilah pula yang menjadikannya target yang berpotensi menarik bagi Amerika Serikat.
Bukti lebih lanjut mengenai pentingnya posisi strategis Abu Musa serta Tunb Besar dan Tunb Kecil adalah klaim UEA atas pulau-pulau tersebut. Sejak tahun 1992, UEA berupaya mengklaim pulau-pulau yang secara historis selalu menjadi wilayah Iran. Uni Eropa dan AS mendukung negara Arab tersebut dalam hal ini; dukungan ini dapat dipandang sebagai upaya untuk mengalihkan kendali atas jalur perairan strategis tersebut dari Iran ke tangan sekutu.
Pertama, pertanyaannya adalah apakah AS mampu merebut salah satu pulau yang dimaksud. Menurut Andreas Krieg, profesor studi keamanan di King’s College London, AS memang memiliki kemampuan untuk merebut pulau kecil milik Iran dengan mengerahkan kekuatan udara, laut, dan amfibi yang memadai. Krieg memperkirakan jumlah personel yang dibutuhkan untuk operasi terbatas setidaknya berkisar antara 5.000 hingga 10.000 orang. Mantan kepala intelijen Komando Pasifik AS, Carl Schuster, juga memberikan perkiraan serupa, yakni sekitar 5.000 tentara.
Namun, masalah yang lebih besar bukanlah merebut pulau-pulau tersebut, melainkan mempertahankannya.

















































